Notification

×

Iklan

Iklan

Tangis Anak Korban Dugaan Pencuri Ayam Bikin Haru, Senator Bali Desak Pelaku Pengeroyokan Dihukum

Juli 26, 2026 Last Updated 2026-07-26T12:45:34Z


Peristiwa tewasnya seorang pria berinisial KD yang diduga menjadi korban pengeroyokan usai dituduh mencuri ayam di Kabupaten Tabanan, Bali, menyita perhatian publik. Momen haru saat anak bungsunya menangis histeris di samping jenazah sang ayah yang viral di media sosial turut memantik keprihatinan berbagai pihak.


Salah satunya datang dari Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Jelantik, yang mengaku sangat terpukul melihat kondisi keluarga korban, khususnya anak-anak yang harus kehilangan sosok ayah akibat aksi kekerasan tersebut.


Senator Bali Kecam Aksi Main Hakim Sendiri


Ni Luh Jelantik menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun, termasuk jika seseorang diduga melakukan tindak pidana.


Menurutnya, setiap dugaan pelanggaran hukum harus diproses melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan diselesaikan dengan kekerasan yang berujung hilangnya nyawa seseorang.


Ia juga menyoroti dampak psikologis yang harus ditanggung keluarga korban. Selain kehilangan kepala keluarga, istri dan anak-anak KD kini harus menghadapi trauma yang diperkirakan akan membekas dalam waktu lama.


Polisi Diminta Usut Tuntas Kasus


Ni Luh mendukung langkah kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pengeroyokan tersebut. Ia meminta seluruh pihak yang terbukti terlibat agar diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Menurutnya, penegakan hukum menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang di tengah masyarakat.


Selain itu, ia mengapresiasi munculnya gerakan solidaritas masyarakat yang menggalang bantuan bagi keluarga korban. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban istri dan anak-anak yang ditinggalkan.


Anak Bungsu Menangis Histeris Saat Jenazah Tiba


Duka mendalam juga dirasakan keluarga KD saat jenazah tiba di rumah duka di Banjar Dinas Juwuk Legi, Kecamatan Baturiti, Tabanan.


Perbekel Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, I Made Sutama, mengungkapkan bahwa korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.


Anak sulung korban telah berkeluarga, sedangkan anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Sementara anak bungsunya masih bersekolah di kelas 1 SD.


Sutama mengaku ikut menjemput jenazah korban dan menyaksikan langsung kesedihan keluarga, terutama saat anak bungsu korban menangis tak henti-hentinya melihat sang ayah telah meninggal dunia.


Video Viral Sentuh Perhatian Publik


Momen tangis anak bungsu KD yang memanggil ayahnya di samping jenazah sempat viral di berbagai platform media sosial. Rekaman tersebut memunculkan gelombang simpati dari masyarakat dan kembali memicu perdebatan mengenai bahaya aksi main hakim sendiri.


Banyak warganet menilai bahwa apa pun dugaan pelanggaran yang dilakukan seseorang, proses hukum tetap harus menjadi jalan penyelesaian, bukan tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa.


Pemerintah Desa Imbau Hormati Proses Hukum


I Made Sutama menyampaikan bahwa pihak keluarga telah menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kepada aparat kepolisian.


Meski demikian, ia menyesalkan aksi pengeroyokan yang terjadi. Menurutnya, apabila seseorang diduga melakukan pencurian atau tindak pidana lainnya, masyarakat seharusnya segera melaporkannya kepada pihak berwajib agar diproses sesuai hukum yang berlaku.


Kasus ini masih dalam penanganan kepolisian. Aparat terus melakukan penyelidikan guna mengungkap kronologi lengkap serta mengidentifikasi seluruh pihak yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal dunia.(Rhz2797)