Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah upaya pemadaman yang terus dilakukan, petugas di lapangan menghadapi berbagai hambatan yang membuat api sulit dikendalikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan sejumlah faktor utama yang menghambat proses pemadaman. Kondisi cuaca yang kering, terbatasnya sumber air, hingga kebutuhan infrastruktur pendukung menjadi persoalan yang harus segera diatasi.
Kapusdatin BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan kondisi kekeringan akibat banyaknya hari tanpa hujan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla.
1. Kekeringan Panjang Membuat Api Lebih Mudah Menyebar
Hambatan pertama yang dihadapi petugas adalah kondisi kekeringan di sejumlah daerah. Minimnya curah hujan dalam waktu cukup lama menyebabkan lahan menjadi kering sehingga api lebih mudah muncul dan meluas.
Situasi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan yang lebih cepat dan intensif. Petugas juga harus terus memantau perkembangan titik-titik api agar kebakaran tidak menjalar ke wilayah yang lebih luas.
Menurut BNPB, kondisi hari tanpa hujan yang berlangsung cukup panjang menjadi salah satu faktor yang memperberat kerja tim pemadam di lapangan.
2. Sumber Air di Lokasi Karhutla Sulit Didapat
Selain kekeringan, keterbatasan akses terhadap sumber air juga menjadi kendala besar. Air merupakan kebutuhan utama dalam proses pemadaman, sementara beberapa lokasi kebakaran berada di wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki sumber air terbatas.
Kondisi ini juga menjadi perhatian di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Selatan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, diperlukan langkah tambahan seperti pembuatan sumur dan penataan saluran atau kanal agar ketersediaan air bisa lebih mudah dimanfaatkan saat terjadi kebakaran.
BNPB berencana menambah sumber air di kawasan yang membutuhkan, termasuk melalui pembuatan sumur dengan dukungan dari TNI.
3. Infrastruktur Pendukung Pemadaman Masih Dibutuhkan
Ketersediaan sarana pendukung juga menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan karhutla. BNPB menilai pemadaman dari darat tetap menjadi strategi utama dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, operasi udara menggunakan helikopter water bombing berfungsi sebagai pendukung untuk membantu pemadaman, terutama di lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Karena itu, penyediaan sumber air yang dekat dengan lokasi kebakaran menjadi salah satu langkah yang terus didorong. Keberadaan sumur dan sarana pendukung lainnya diharapkan dapat mempercepat petugas saat melakukan pemadaman.
Pemerintah Terus Tambah Helikopter dan Peralatan Pemadaman
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pemerintah terus melakukan langkah mitigasi untuk mencegah perluasan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah menaruh perhatian pada upaya menghentikan bertambahnya titik-titik api di wilayah rawan.
Saat meninjau situasi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Prabowo menyatakan pemerintah terus menerima laporan kebutuhan dari daerah dan berupaya memenuhi perlengkapan yang dibutuhkan dalam penanganan karhutla.
Dukungan tersebut mencakup penambahan helikopter untuk operasi water bombing, peralatan pemadaman, hingga mesin bor untuk membantu mendapatkan sumber air.
Pemadaman dari Darat Tetap Jadi Andalan
BNPB menegaskan bahwa penanganan langsung oleh petugas di darat tetap menjadi tulang punggung dalam upaya pemadaman karhutla. Operasi udara memiliki peran penting, tetapi lebih bersifat sebagai dukungan terhadap tim yang bekerja langsung di lokasi kebakaran.
Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan berbagai unsur terkait terus dilakukan untuk mempercepat penanganan titik api.
Dengan kondisi musim kering yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah, ketersediaan air dan kesiapan personel menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran meluas.
Pemerintah berharap langkah mitigasi, penambahan peralatan, serta penguatan pemadaman dari darat dapat membantu mengendalikan karhutla dan mencegah munculnya titik api baru di berbagai daerah Indonesia.(Rhz2797)
