Notification

×

Iklan

Iklan

Kenapa Diagnosis Usus Buntu Bisa Berubah? Ini Penjelasan Dokter

Agustus 13, 2026 Last Updated 2026-08-13T06:06:16Z

Perbedaan diagnosis usus buntu atau apendisitis saat seseorang diperiksa di rumah sakit yang berbeda menjadi perhatian setelah pengalaman selebgram Fahira Almira viral di media sosial. Ia mengaku sempat mendapat diagnosis usus buntu ketika berobat di Indonesia, tetapi hasil pemeriksaan di rumah sakit Penang, Malaysia, menunjukkan kondisi yang berbeda.


Situasi tersebut tidak selalu berarti salah satu pemeriksaan keliru. Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, menjelaskan bahwa kondisi apendisitis dapat berubah seiring waktu, terutama setelah pasien mendapatkan pengobatan.


Menurut Prof Ari, peradangan usus buntu yang awalnya berada dalam kondisi akut dapat mereda dalam hitungan minggu. Karena itu, kondisi pasien ketika kembali diperiksa belum tentu sama dengan saat pertama kali mendapatkan diagnosis.


Gejala Usus Buntu Bisa Mereda dalam Beberapa Minggu


Prof Ari mengatakan kondisi akut pada apendisitis dapat menghilang setelah pasien memperoleh penanganan. Bahkan, perubahan kondisi tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat.


"Bahkan, jangankan 3 bulan, mungkin dalam 2-3 minggu kalau kondisinya membaik, maka gejala akutnya sudah hilang. Tapi bisa saja pasien masih ada dalam fase apendisitis kronis," kata Prof Ari kepada detikcom, Rabu (12/8/2026).


Artinya, pemeriksaan yang dilakukan beberapa minggu setelah munculnya gejala dapat menghasilkan temuan yang berbeda. Pasien mungkin sudah tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan akut, meskipun sebelumnya mengalami gejala yang mengarah pada apendisitis.


Kondisi apendisitis kronis juga tidak selalu menetap. Peradangan dapat kembali mengalami kekambuhan akut sehingga kondisi pasien dapat berubah dari waktu ke waktu.


Mengapa Pemeriksaan di Rumah Sakit Berbeda?


Menurut Prof Ari, kemampuan pasien untuk bepergian atau melakukan aktivitas tertentu setelah pemeriksaan pertama tidak otomatis menunjukkan bahwa diagnosis awal mengenai kondisi akut pasti salah.


Pasalnya, kondisi medis dapat berubah setelah pasien mendapatkan terapi. Ketika pasien tiba di fasilitas kesehatan berikutnya, fase akut yang sebelumnya terjadi bisa saja sudah mereda.


"Jadi memang kurang pas juga kalau dibilang pasien bisa naik pesawat, kemudian bisa berobat ke rumah sakit di sana, jalan kaki, segala macam, dinyatakan sebagai kondisi yang akut. Jadi memang bisa saja pada saat datang sudah kondisinya tidak akut lagi," jelasnya.


Prof Ari menambahkan, pasien pada pemeriksaan berikutnya mungkin sudah berada dalam fase kronis. Pada kondisi tersebut, tanda infeksi yang sebelumnya terlihat juga belum tentu masih ditemukan.


"Sudah mungkin kronis kalau diperiksa pun juga tidak terbukti lagi adanya infeksi," tambahnya.


Usus Buntu Tidak Selalu Harus Dioperasi


Selain menjelaskan mengenai perubahan kondisi penyakit, Prof Ari juga menerangkan bahwa penanganan apendisitis tidak selalu berakhir dengan operasi dalam setiap situasi.


Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi berupa antibiotik dan obat pereda nyeri, misalnya ketika pasien tidak bersedia menjalani operasi. Namun, pendekatan tanpa operasi memiliki pertimbangan dan risiko tersendiri.


"Bisa saja akhirnya pasien itu tidak jadi dioperasi," ujar Prof Ari.


Jika terapi berhasil, peradangan dapat mereda dan kondisi pasien membaik. Namun, apabila pengobatan tidak berhasil mengendalikan peradangan, penyakit dapat berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius.


Peradangan Bisa Menyebabkan Perforasi


Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah perforasi, yaitu kondisi ketika dinding usus buntu mengalami kebocoran atau pecah akibat proses peradangan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan komplikasi dan memerlukan penanganan medis lebih lanjut.


Peradangan juga dapat menyebabkan perlengketan pada jaringan di sekitar area yang terkena. Karena itu, keputusan mengenai pengobatan sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi dokter dan kondisi masing-masing pasien.


Perbedaan hasil pemeriksaan usus buntu pada waktu yang berbeda dengan demikian tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan diagnosis. Perjalanan penyakit, waktu pemeriksaan, kondisi pasien, serta respons terhadap pengobatan dapat memengaruhi temuan medis.


Kasus yang menjadi perhatian setelah pengalaman Fahira Almira tersebut juga menjadi pengingat bahwa diagnosis kesehatan perlu dipahami berdasarkan kondisi pasien pada saat pemeriksaan dilakukan. Jika muncul kembali nyeri perut atau gejala yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.(Rhz2797)