Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara mengenai polemik konten selebgram Fahira Almira yang membandingkan pengalaman pemeriksaan medis di sejumlah rumah sakit Indonesia dengan fasilitas kesehatan di Penang, Malaysia.
Konten tersebut ramai diperbincangkan setelah Fahira mengaku mendapat diagnosis radang usus buntu dari beberapa rumah sakit di Indonesia, sementara hasil pemeriksaannya di Penang disebut berbeda. Perbedaan tersebut kemudian memicu tudingan di media sosial mengenai dugaan black campaign terhadap dokter dan layanan kesehatan di Indonesia.
Ketua Bidang Humas Pengurus Besar IDI, dr Cashtry Meher, menegaskan bahwa masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman maupun kritik terhadap pelayanan kesehatan. Menurutnya, kritik justru dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu layanan kesehatan.
Namun, pengalaman satu pasien tidak semestinya langsung dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan terhadap seluruh dokter di Indonesia.
“Kami memahami dan mengakomodasi perasaan masyarakat yang terjadi. Setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman, tetapi terasa tidak mendapatkan penyelesaian yang sesuai dengan harapannya,” ujar Cashtry, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan, penyampaian kritik perlu dilakukan secara proporsional agar pengalaman individual tidak berubah menjadi generalisasi terhadap profesi dokter secara keseluruhan.
IDI Jelaskan Mengapa Diagnosis Bisa Berbeda
Menanggapi perbedaan diagnosis yang menjadi sorotan, IDI menjelaskan bahwa penentuan diagnosis medis tidak dilakukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan.
Dokter perlu menggabungkan berbagai informasi, mulai dari keluhan dan perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau metode pencitraan lainnya sesuai indikasi.
Karena itu, perbedaan hasil pemeriksaan antara dua fasilitas kesehatan tidak serta-merta menunjukkan bahwa salah satu dokter melakukan kesalahan.
“Diagnosis ini tidak ditentukan hanya oleh satu pemeriksaan. Dokter akan melihat keseluruhan perjalanan penyakit pasien berdasarkan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau pemeriksaan lain sesuai dengan indikasi yang berlaku,” jelas Cashtry.
Untuk memastikan apakah benar terjadi kesalahan diagnosis, diperlukan penelusuran terhadap rekam medis secara menyeluruh. Riwayat penyakit, kronologi pemeriksaan, hasil tes, pertimbangan klinis dokter, serta standar profesi yang berlaku perlu dilihat secara bersama-sama.
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Bukan Otomatis Malpraktik
Cashtry juga menyoroti perbedaan hasil pemeriksaan antara rumah sakit di Indonesia dan Penang. Menurutnya, kondisi pasien dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga hasil pemeriksaan pada waktu berbeda belum tentu menghasilkan kesimpulan yang sama.
Selain faktor kondisi pasien, jenis pemeriksaan, teknologi yang digunakan, waktu pemeriksaan, hingga interpretasi klinis dapat memengaruhi hasil penilaian dokter.
Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan dokter lain mengenai kasus yang ramai diperbincangkan. Perbedaan diagnosis antar-rumah sakit bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Faktor seperti kondisi pasien, jeda pemeriksaan, serta kemampuan dan karakteristik pemeriksaan tertentu dapat memengaruhi hasil diagnosis.
Karena itu, menurut IDI, perdebatan mengenai kasus Fahira sebaiknya tidak diarahkan menjadi pertentangan antara dokter Indonesia dan dokter di luar negeri.
“Yang harus kita cari adalah apa sebenarnya kondisi medis pasien tersebut berdasarkan rekam medis lengkap dari pasien tersebut,” kata Cashtry.
IDI Bantah Diagnosis Hanya Mengandalkan Laboratorium
IDI juga meluruskan anggapan bahwa dokter di Indonesia terlalu mengandalkan hasil pemeriksaan laboratorium ketika menentukan diagnosis.
Cashtry menjelaskan bahwa setiap metode pemeriksaan memiliki fungsi masing-masing. Pemeriksaan fisik, laboratorium, serta pencitraan medis tidak berdiri sendiri, melainkan digunakan untuk melengkapi informasi mengenai kondisi pasien.
Dalam kasus dugaan apendisitis atau radang usus buntu, misalnya, diagnosis membutuhkan integrasi antara informasi klinis dan hasil pemeriksaan penunjang. Tidak ada satu jenis pemeriksaan yang secara otomatis menjadi penentu tunggal bagi seluruh pasien.
Dengan demikian, perbedaan hasil pemeriksaan antara rumah sakit di Indonesia dan Penang perlu dilihat berdasarkan konteks medis masing-masing pasien. Menentukan ada atau tidaknya kesalahan diagnosis membutuhkan pemeriksaan rekam medis secara lengkap, bukan hanya membandingkan satu hasil pemeriksaan dengan hasil lainnya.
IDI Dorong Kritik Pelayanan Tetap Konstruktif
Di tengah viralnya kasus tersebut, IDI menyatakan tidak menutup ruang bagi masyarakat untuk memberikan kritik terhadap pelayanan kesehatan. Organisasi profesi tersebut justru menilai kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi masukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan.
Namun, kritik perlu dibedakan dari generalisasi. Pengalaman seorang pasien di satu fasilitas kesehatan tidak dapat secara otomatis menggambarkan kualitas seluruh dokter maupun layanan kesehatan di Indonesia.
Sebelumnya, IDI juga menyatakan tidak akan mengambil langkah somasi terhadap Fahira terkait polemik konten tersebut. IDI memilih mendorong pembahasan yang konstruktif mengenai pengalaman pasien dan kualitas pelayanan kesehatan.
Polemik ini pun masih menjadi perhatian publik, terutama terkait perbedaan diagnosis radang usus buntu yang dialami Fahira. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan akan mengecek konten yang ramai diperbincangkan tersebut.
Pada akhirnya, IDI menekankan bahwa setiap kasus medis harus dinilai berdasarkan kondisi pasien dan bukti medis secara menyeluruh. Perbedaan pendapat atau hasil pemeriksaan tidak seharusnya langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa dokter atau fasilitas kesehatan tertentu telah melakukan kesalahan.(Rhz2797)
