Kasus dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mendapat perhatian serius. Sebanyak 566 santri dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Rafli Ridho, akhirnya memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut. Ia menyampaikan permintaan maaf sekaligus mengungkapkan rasa penyesalannya atas insiden yang terjadi.
"Mohon maaf ya, saya menyesal," ujar Rafli kepada awak media, Rabu (2/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah jumlah santri yang mengalami keluhan kesehatan terus bertambah. Berdasarkan data terbaru dalam penanganan kasus, tercatat 566 santri mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di lingkungan Ponpes Manbaul Hikam.
Menu MBG yang Dikonsumsi Para Santri
Di tengah penanganan para santri, rincian menu MBG yang dibagikan pada hari kejadian turut terungkap.
Serka Andik, pendamping SPPG yang menyediakan makanan untuk para santri, menjelaskan bahwa paket makanan tersebut terdiri dari beberapa jenis makanan dengan unsur karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.
"Menu hari ini nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel," kata Andik saat ditemui wartawan di lokasi ponpes.
Menu tersebut terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel. Secara komposisi, makanan tersebut dirancang untuk memenuhi unsur gizi bagi penerima manfaat program MBG.
Namun setelah makanan dikonsumsi, sejumlah santri kemudian mengalami keluhan kesehatan hingga jumlahnya mencapai ratusan orang.
Penyebab Keracunan Masih Didalami
Meski dugaan keracunan terjadi setelah para santri mengonsumsi makanan MBG, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan.
Pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah gangguan kesehatan yang dialami para santri memang berkaitan dengan makanan yang disediakan SPPG atau terdapat faktor lain.
Karena itu, dugaan bahwa makanan MBG menjadi penyebab utama tidak dapat langsung disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan medis, uji laboratorium, maupun pemeriksaan terhadap sampel makanan dan bahan yang digunakan selesai dilakukan.
Kasus ini juga menjadi perhatian karena jumlah santri yang mengalami keluhan mencapai 566 orang. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai proses penyediaan makanan, mulai dari pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh para penerima manfaat.
Keamanan Pangan MBG Jadi Sorotan
Insiden di Ponpes Manbaul Hikam kembali menegaskan pentingnya aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Program MBG tidak hanya dituntut menyediakan makanan dengan kandungan gizi yang memadai. Setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, penyimpanan, pengemasan hingga distribusi, perlu dilakukan sesuai standar keamanan pangan.
Dengan jumlah santri yang mengalami gangguan kesehatan mencapai ratusan orang, pemeriksaan menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan menjadi penting. Langkah tersebut diperlukan untuk menemukan titik persoalan sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para santri.
Jika terbukti berkaitan dengan makanan MBG, temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pengolahan dan distribusi makanan. Sebaliknya, apabila ditemukan faktor lain, hasil penyelidikan dapat membantu meluruskan dugaan yang berkembang di masyarakat.
Kasus 566 santri diduga keracunan di Ponpes Manbaul Hikam ini menjadi ujian penting bagi penyelenggaraan program MBG. Selain memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, aspek keamanan dan kualitas makanan juga menjadi hal yang tidak kalah penting untuk memastikan program berjalan dengan baik.(Rhz2797)
