Menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Sejumlah kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif dan mendukung kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Kemampuan mengingat, berpikir, belajar, dan mengambil keputusan memang dapat mengalami perubahan ketika seseorang menua. Namun, penuaan tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami demensia. National Institute on Aging (NIA) menyebut sejumlah faktor gaya hidup dapat dikelola untuk membantu menjaga kesehatan kognitif.
Neurolog dari Duke University, Dr Andy Liu, sebelumnya menjelaskan bahwa usia kronologis bukan satu-satunya hal yang berkaitan dengan kondisi otak. Kebiasaan sehari-hari juga berperan dalam menjaga fungsi otak tetap aktif.
Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan untuk mendukung kesehatan otak.
1. Rutin Bergerak dan Perhatikan Pola Makan
Aktivitas fisik menjadi salah satu kebiasaan penting untuk menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung fungsi otak.
Liu menjelaskan bahwa kesehatan jantung dan kesehatan otak memiliki hubungan yang erat. Karena itu, menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, serta gula darah tetap terkendali menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.
NIA merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik per minggu. Aktivitas tersebut tidak harus selalu berupa olahraga berat. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, berkebun, maupun aktivitas fisik lainnya juga dapat menjadi pilihan sesuai kemampuan masing-masing.
Selain aktif bergerak, pola makan juga perlu diperhatikan. Memperbanyak makanan bergizi seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang baik dapat menjadi bagian dari pola hidup yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Yang tidak kalah penting adalah mengendalikan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit kardiovaskular karena kondisi tersebut dapat berhubungan dengan kesehatan otak.
2. Jangan Jarang Bersosialisasi
Menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman bukan sekadar aktivitas untuk mengusir rasa bosan. Interaksi sosial juga membuat seseorang terus menggunakan berbagai kemampuan kognitif, mulai dari mendengarkan, memahami pembicaraan hingga merespons lawan bicara.
Liu mengibaratkan kemampuan tersebut seperti otot yang perlu terus digunakan agar tetap terlatih. Karena itu, menjaga hubungan dengan orang lain dapat menjadi salah satu cara untuk tetap membuat otak aktif.
Aktivitas sederhana seperti berbincang dengan keluarga, bertemu teman, mengikuti kegiatan komunitas, atau menjadi sukarelawan dapat membantu seseorang tetap terhubung secara sosial.
NIA juga mencatat bahwa keterlibatan sosial yang lebih tinggi dikaitkan dengan kesehatan kognitif yang lebih baik pada usia lanjut. Sebaliknya, isolasi sosial dan kesepian dikaitkan dengan risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih tinggi.
Jadi, tidak perlu menunggu ada acara khusus untuk bertemu orang lain. Sekadar mengobrol dengan teman atau menghabiskan waktu bersama keluarga pun dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih aktif.
3. Biasakan Mempelajari Hal Baru
Otak juga perlu terus mendapatkan rangsangan. Salah satu caranya adalah mencoba mempelajari sesuatu yang belum pernah dikuasai sebelumnya.
Liu menyarankan aktivitas seperti belajar bahasa baru, mencoba resep masakan yang berbeda, atau mempelajari alat musik. Kuncinya adalah memilih kegiatan yang memang disukai sehingga lebih mudah dilakukan secara konsisten.
Pilihan lainnya cukup beragam. Membaca buku, mengikuti kelas, belajar keterampilan baru, membuat kerajinan, bermain permainan papan, hingga melakukan aktivitas kreatif dapat membantu seseorang tetap aktif secara mental.
NIA menyebut orang lanjut usia tetap memiliki kemampuan untuk mempelajari keterampilan baru dan membentuk ingatan baru. Beberapa penelitian juga menunjukkan aktivitas yang merangsang pikiran dapat memberikan manfaat bagi fungsi kognitif, meski bukti bahwa aktivitas tertentu dapat secara langsung mencegah demensia masih belum definitif.
Permainan seperti sudoku, teka-teki silang, atau permainan kata juga dapat menjadi hiburan yang membuat pikiran tetap aktif. Namun, permainan otak komersial tidak seharusnya dianggap sebagai cara yang sudah terbukti dapat mencegah demensia. NIA menyatakan bukti untuk manfaat jangka panjang dari aplikasi pelatihan otak komersial masih terbatas.
Bukan Cuma Soal Menghindari Pikun
Menjaga kesehatan otak sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika seseorang mulai mengalami masalah memori. Kebiasaan sehat perlu dibangun sejak dini dan dilakukan secara konsisten.
Rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan, tetap bersosialisasi, serta memberikan stimulasi mental merupakan beberapa langkah yang dapat mendukung kesehatan otak. Tidur yang cukup dan pengelolaan kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi, diabetes, serta kolesterol juga penting diperhatikan.
Meski demikian, tidak ada kebiasaan tunggal yang dapat menjamin seseorang terbebas dari penurunan kognitif atau demensia. Faktor genetik, lingkungan, kondisi kesehatan, dan usia juga turut berperan.
Karena itu, menjaga otak tetap sehat lebih tepat dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehat secara menyeluruh. Semakin konsisten kebiasaan baik dilakukan, semakin banyak faktor kesehatan yang dapat dikelola untuk mendukung fungsi tubuh dan otak seiring bertambahnya usia.(Rhz2797)
