Notification

×

Iklan

Iklan

Tiga Hari Berturut-turut, Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jatim Tembus 1.111 Orang

September 08, 2026 Last Updated 2026-09-08T07:45:26Z


Kasus dugaan keracunan yang dialami penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur terjadi secara beruntun dalam beberapa hari. Dalam kurun tiga hari, jumlah pelajar, santri, dan guru yang dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan mencapai sedikitnya 1.111 orang.


Data tersebut merupakan akumulasi dari sejumlah kejadian di Sidoarjo, Nganjuk, dan Jombang yang terjadi sejak awal September 2026. Jumlah korban masih berpotensi berubah seiring pendataan dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah serta fasilitas kesehatan.


Para korban dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui program MBG.


Sidoarjo Jadi Kasus dengan Korban Terbanyak


Kejadian pertama terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Kasus ini menjadi kejadian dengan jumlah korban terdampak paling banyak dibandingkan dua wilayah lainnya.


Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo hingga Kamis sore, total warga yang terdampak mencapai 730 orang.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyampaikan sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang dan menjalani pengobatan secara rawat jalan.


Sebanyak 706 orang telah menjalani rawat jalan, sementara 23 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Selain itu, satu pasien masih berada dalam tahap observasi.


"Data terakhir masih rawat opname itu 23 orang. Kemudian yang sudah kita rawat jalankan, artinya sudah berobat jalan itu 706. Dan saat ini masih ada observasi pasien satu orang," kata dr. Lakhsmie.


125 Siswa SMAN 3 Nganjuk Dilaporkan Terdampak


Kasus berikutnya terjadi di SMAN 3 Nganjuk. Sebanyak 125 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 siswa masih menjalani perawatan hingga Kamis siang. Sementara 92 siswa lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik.


Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, mengatakan kondisi para siswa yang masih mendapatkan perawatan terus membaik.


Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga mengerahkan tenaga kesehatan dan membuka akses pelayanan di rumah sakit maupun puskesmas untuk memastikan para siswa mendapatkan penanganan medis.


"Mulai dokter spesialis, dokter, perawat, kami siapkan untuk menangani kejadian ini dari awal. Semua fasilitas kesehatan, baik rumah sakit maupun puskesmas juga kita buka lebar," ujar Trihandy.


Ratusan Siswa dan Guru SMPN 1 Kabuh Juga Alami Gejala Serupa


Pada hari berikutnya, kejadian serupa dilaporkan terjadi di SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang. Siswa dan guru dilaporkan mengalami sejumlah gejala gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.


Mereka mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare. Sejumlah siswa kemudian mendapatkan penanganan di puskesmas maupun klinik.


Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyebut jumlah sementara korban di SMPN 1 Kabuh mencapai 256 siswa dan guru.


Sebagian besar korban telah mendapatkan penanganan dan kondisi mereka berangsur membaik. Namun, beberapa siswa masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.


Dari jumlah tersebut, tujuh siswa dilaporkan masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh. Sementara korban lainnya telah mendapatkan perawatan dan sebagian menjalani pengobatan secara mandiri.


Menurut dr. Hexawan, jumlah korban masih dapat berubah karena pendataan terus dilakukan dan kemungkinan masih ada warga sekolah yang datang untuk mendapatkan pemeriksaan.


Total Sementara Mencapai 1.111 Orang


Jika digabungkan, jumlah sementara warga terdampak dari tiga kejadian tersebut mencapai 1.111 orang.


Rinciannya, sebanyak 730 orang terdampak di Sidoarjo, 125 siswa di Nganjuk, serta 256 siswa dan guru di Jombang.


Meski demikian, angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan serta pemeriksaan lanjutan oleh pemerintah daerah dan tenaga kesehatan.


Rangkaian kejadian ini menjadi perhatian serius karena terjadi dalam waktu berdekatan dan melibatkan jumlah pelajar, santri, serta tenaga pendidik yang cukup besar.


Pihak terkait masih melakukan penanganan terhadap para korban sekaligus menelusuri penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima makanan dalam tiga kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan lebih lanjut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.(Rhz2797)