Sensasi rasa manis tipis saat meminum air mineral kerap menjadi perbincangan di kalangan konsumen. Sebagian orang merasakan air putih tertentu memiliki cita rasa yang sedikit manis, meskipun tidak ada gula yang ditambahkan. Lantas, apakah sensasi tersebut hanya dipengaruhi persepsi lidah atau memiliki penjelasan ilmiah?
Penelitian yang dipaparkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti fenomena tersebut melalui pengujian sensori terhadap air mineral. Hasil yang disampaikan menunjukkan bahwa karakter rasa manis tipis atau thin sweet dapat dikenali oleh panelis pada sampel air dengan komposisi mineral tertentu.
Peneliti IDI, dr. Dien Kurtanti, MKM, menjelaskan bahwa sensasi tersebut berbeda dari rasa manis yang muncul ketika seseorang mengonsumsi air dengan tambahan gula atau pemanis. Menurutnya, komposisi mineral alami menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami karakter rasa air mineral.
"Pada uji kami ini, air mineral ternyata dengan komposisi yang tadi, sampel A tadi, bisa ditangkap oleh panelis, bahwa manis. Tapi, jangan dibayangkan manis gula ya. Ini manisnya sangat tipis," ujar dr. Dien dalam konferensi pers IDI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Kandungan Bikarbonat Diduga Berperan dalam Sensasi Manis Air Mineral
Salah satu komponen yang disoroti dalam penjelasan penelitian tersebut adalah bikarbonat. Senyawa ini berperan dalam sistem penyangga asam-basa atau buffer, yang membantu menjaga keseimbangan tingkat keasaman dalam suatu larutan.
Ketika air mineral masuk ke rongga mulut, komposisi ion di dalamnya berinteraksi dengan lingkungan saliva atau air liur. Interaksi tersebut dapat memengaruhi karakter sensori yang dirasakan seseorang saat minum.
Menurut dr. Dien, keseimbangan komposisi mineral, termasuk bikarbonat, berkaitan dengan munculnya persepsi rasa manis yang sangat ringan pada sampel yang diuji.
"Secara teori, bikarbonat itu menjadi buffer untuk asam basa yang berinteraksi dengan rongga mulut kita dengan saliva. Sehingga, kemudian memunculkan karakter persepsi sensorik sensasi manis tipis tadi," jelasnya.
Meski demikian, sensasi rasa merupakan hasil persepsi indra pengecap yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, rasa manis tipis tidak serta-merta menunjukkan bahwa suatu air mineral mengandung gula atau pemanis tambahan.
IDI Gunakan Metode Double Blind untuk Menguji Rasa Air Mineral
Untuk mengurangi kemungkinan bias dalam penilaian rasa, penelitian yang dipaparkan IDI menggunakan metode double blind. Dalam pendekatan ini, identitas merek sampel tidak diketahui oleh panelis maupun pihak peneliti yang terlibat langsung dalam penilaian.
Metode tersebut bertujuan meminimalkan pengaruh ekspektasi, reputasi merek, dan pengalaman konsumen terhadap hasil pengujian. Dengan demikian, penilaian lebih berfokus pada karakter sensori sampel yang benar-benar dirasakan.
Dalam pemaparan hasil penelitian, sampel air dengan keseimbangan mineral tertentu dan kadar Total Dissolved Solids (TDS) pada kisaran menengah dilaporkan dapat dikenali panelis memiliki sensasi manis tipis.
Angka TDS pada sampel yang disoroti berada di kisaran 190-an miligram per liter (mg/L). TDS merupakan ukuran jumlah total zat terlarut dalam air, termasuk berbagai mineral dan ion.
Namun, nilai TDS saja tidak cukup untuk menentukan rasa suatu air mineral. Jenis dan proporsi mineral yang terkandung juga dapat memengaruhi karakter rasa, sehingga dua produk dengan nilai TDS serupa belum tentu memiliki sensasi yang sama.
Apa Itu TDS dan Pengaruhnya terhadap Rasa Air Mineral?
TDS atau Total Dissolved Solids merupakan parameter yang menunjukkan total zat terlarut dalam air. Pada air mineral, zat terlarut tersebut dapat mencakup kalsium, magnesium, natrium, bikarbonat, dan berbagai ion lainnya.
Komposisi mineral yang berbeda dapat menghasilkan karakter rasa yang berbeda pula. Sebagian air terasa lebih netral, sementara jenis lainnya dapat memberikan kesan lebih segar, sedikit gurih, atau memiliki karakter sensori tertentu.
Karena itu, pengalaman seseorang saat meminum air mineral tidak selalu sama. Selain komposisi mineral, suhu air, kondisi rongga mulut, dan sensitivitas indra pengecap juga dapat memengaruhi persepsi rasa.
Temuan yang dipaparkan IDI memberikan gambaran mengenai kemungkinan hubungan antara komposisi mineral dan sensasi manis tipis. Meski begitu, untuk menilai seberapa kuat hubungan tersebut, diperlukan informasi lebih lengkap mengenai desain penelitian, jumlah panelis, komposisi setiap sampel, serta hasil analisis statistiknya.
Rasa Manis Tipis Bukan Satu-satunya Tolok Ukur Kualitas Air
Sensasi manis tipis dapat menjadi salah satu karakter sensori yang disukai konsumen. Namun, rasa tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan kualitas atau keamanan air minum.
Masyarakat tetap perlu memperhatikan sumber air, proses pengolahan, kebersihan kemasan, kondisi penyimpanan, serta informasi komposisi mineral yang tercantum pada label produk.
Air yang terasa netral tidak otomatis lebih baik, begitu pula air yang memiliki sensasi manis tipis tidak otomatis lebih sehat. Penilaian kualitas air minum perlu didasarkan pada standar keamanan dan mutu yang berlaku, bukan hanya pengalaman saat mencicipinya.
Dengan memahami peran mineral dan persepsi indra pengecap, konsumen dapat melihat bahwa karakter rasa air mineral tidak selalu berkaitan dengan penambahan gula. Meski penelitian yang dipaparkan IDI memberikan penjelasan awal mengenai fenomena tersebut, rincian bukti ilmiahnya tetap penting untuk memahami seberapa jauh kesimpulan itu dapat diterapkan pada berbagai produk air mineral.(Rhz2797)

