Kebiasaan mengunyah es batu mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Namun, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu tanda yang berkaitan dengan anemia akibat kekurangan zat besi.
Melalui unggahan di akun Instagramnya, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keinginan berulang untuk mengunyah es batu. Selain berpotensi berkaitan dengan masalah kesehatan, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi.
Dalam istilah medis, keinginan mengonsumsi atau mengunyah benda yang bukan makanan dikenal sebagai pica. Sementara itu, kebiasaan khusus mengunyah es batu disebut pagophagia.
Meski tidak semua orang yang mengunyah es batu mengalami anemia, kebiasaan yang muncul terus-menerus dan sulit dihentikan patut diperhatikan, terutama jika disertai keluhan mudah lelah atau tubuh terasa lemas.
Mengapa Kebiasaan Mengunyah Es Batu Bisa Berkaitan dengan Anemia?
Budi menjelaskan bahwa anemia akibat kekurangan zat besi dapat mengganggu kemampuan tubuh mengangkut oksigen ke jaringan melalui hemoglobin dalam sel darah merah.
Ketika kadar hemoglobin rendah, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan, seperti mudah lelah, lemas, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga terlihat pucat.
Lantas, mengapa sebagian orang yang mengalami kondisi tersebut justru ingin mengunyah es batu?
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pagophagia dan anemia defisiensi besi. Sensasi dingin ketika mengunyah es diduga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara pada sebagian orang, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.
Karena itu, kebiasaan mengunyah es batu tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan seseorang mengalami anemia. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Bahaya Mengunyah Es Batu bagi Kesehatan Gigi
Selain kemungkinan berkaitan dengan kekurangan zat besi, mengunyah es batu juga memiliki risiko terhadap kesehatan gigi.
Es batu memiliki tekstur keras. Tekanan berulang saat menggigitnya dapat menyebabkan enamel atau lapisan pelindung gigi mengalami kerusakan, bahkan meningkatkan risiko gigi retak atau patah.
Risiko tersebut dapat bertambah apabila seseorang memiliki gigi yang sudah rapuh, tambalan besar, atau masalah kesehatan gigi lainnya.
Budi juga mengingatkan bahaya ketika seseorang mengunyah es batu sambil berbicara. Potongan es dapat tertelan secara tidak sengaja dan menimbulkan risiko tersedak.
Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan mengunyah es batu merupakan langkah yang lebih aman, terutama jika dorongan untuk melakukannya muncul berulang kali.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Puskesmas?
Menkes Budi mengimbau masyarakat yang memiliki kebiasaan mengunyah es batu agar tidak ragu memeriksakan kondisi kesehatannya ke fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Puskesmas.
Pemeriksaan penting dilakukan apabila kebiasaan tersebut disertai gejala yang mengarah pada anemia, seperti mudah lelah, lemas, pusing, jantung berdebar, atau sesak napas saat beraktivitas.
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah, termasuk pengukuran hemoglobin. Jika dicurigai kekurangan zat besi, pemeriksaan ferritin juga dapat diperlukan untuk menilai cadangan zat besi dalam tubuh.
Apabila anemia terkonfirmasi, penanganannya harus disesuaikan dengan penyebabnya. Dokter dapat menyarankan perbaikan pola makan, pemberian suplemen zat besi jika diperlukan, atau pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari sumber kehilangan darah.
Masyarakat sebaiknya tidak langsung mengonsumsi suplemen zat besi tanpa mengetahui kebutuhan tubuh dan penyebab keluhan.
Cegah Anemia dengan Pola Makan Bergizi Seimbang
Selain mengenali gejala, masyarakat dapat menjaga kecukupan zat besi melalui pola makan bergizi seimbang.
Beberapa sumber zat besi yang dapat dikonsumsi antara lain daging, ikan, ayam, telur, kacang-kacangan, serta sayuran hijau. Sumber zat besi dari tumbuhan dapat dikombinasikan dengan makanan kaya vitamin C untuk membantu penyerapannya.
Kebutuhan zat besi setiap orang berbeda, bergantung pada usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, dan faktor lainnya. Kelompok tertentu, termasuk perempuan yang mengalami menstruasi berat dan ibu hamil, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan zat besi.
Pesan utama yang disampaikan Menkes Budi adalah agar masyarakat tidak menganggap keinginan mengunyah es batu secara terus-menerus sebagai kebiasaan biasa tanpa memperhatikan kemungkinan penyebabnya.
Meski bukan bukti pasti anemia, pagophagia dapat menjadi petunjuk untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan mengetahui penyebabnya sejak dini, penanganan yang tepat dapat dilakukan sekaligus membantu mencegah komplikasi akibat kekurangan zat besi.(Rhz2797)

