Notification

×

Iklan

Iklan

Mencairnya Es di Kutub Bikin Rotasi Bumi Berubah, Ini Dampaknya

April 04, 2024 Last Updated 2024-04-04T08:04:40Z


Mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan akibat perubahan iklim berdampak pada putaran Bumi sehingga mengubah jam dunia.


Jadi Gaes, secara sederhana bisa dikatakan bahwa jam dan menit yang menentukan hari-hari kita ditentukan oleh rotasi Bumi. Namun, rotasi Bumi tidak konstan alias dapat berubah meski sangat sedikit.


Perubahan rotasi Bumi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk apa yang terjadi di permukaan Bumi dan inti cairnya. Kecepatan sudut inti cair yang terus menurun akibat perubahan iklim mengakibatkan peningkatan kecepatan sudut Bumi. Artinya, Bumi berputar sedikit lebih cepat.


Perubahan kecil ini membuat jam dunia perlu disesuaikan dengan detik kabisat. Selama beberapa dekade, banyak detik telah ditambahkan. Namun setelah tren melambat yang terjadi cukup lama, rotasi Bumi kini semakin cepat karena adanya perubahan pada intinya. Untuk mengoreksi peningkatan kecepatan sudut ini, detik kabisat negatif bakal ditambahkan pada 2026.


Namun, dalam studi baru yang terbit di jurnal Nature, detik kabisat yang bakal ditambahkan ke Coordinated Universal Time (UTC)–standar yang digunakan untuk mengatur semua zona waktu di seluruh dunia– pada 2026 mendatang kini tertunda hingga 2029 karena mencairnya tutupan es di kutub.


Perubahan UTC ini dapat berdampak pada jaringan komputer di seluruh dunia dan menjadi pertanda terjadinya perubahan iklim serta mencairnya es laut. Komputasi jaringan dan pasar keuangan–di antara banyak aktivitas lain– memerlukan jam global standar yang disediakan oleh UTC. Oleh karena itu, UTC perlu disesuaikan untuk mempertahankan kerangka waktu yang konsisten dengan rotasi Bumi.


Antartika sendiri mencair dengan rata-rata 150 miliar ton es per tahun. Sementara lapisan es Greenland kehilangan sekitar 270 miliar ton es per tahun. Pencairan es di kutub berdampak pada kenaikan permukaan air laut dunia, sehingga memindahkan massa dari kutub. Hal inilah yang mungkin menurunkan kecepatan sudut planet, dan oleh karena itu detik kabisat negatif akan diperlukan pada 2029 mendatang.


“Mengekstrapolasi tren inti dan fenomena relevan lainnya untuk memprediksi orientasi Bumi di masa depan menunjukkan bahwa UTC seperti yang didefinisikan sekarang akan memerlukan diskontinuitas negatif pada 2029,” tulis peneliti Duncan Agnew dari University of California San Diego dalam studinya.


“Hal ini akan menimbulkan masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penentuan waktu jaringan komputer dan mungkin mengharuskan dilakukannya perubahan UTC lebih awal dari yang direncanakan.”


Menurut peneliti, pemanasan global di masa depan bisa menyebabkan masalah lebih lanjut terkait ketepatan waktu global di masa mendatang seiring dengan berlanjutnya perubahan iklim.