Notification

×

Iklan

Iklan

Samudra Selatan Memiliki Udara Terbersih di Bumi, Ini Penyebabnya

April 07, 2024 Last Updated 2024-04-06T22:50:10Z


Samudra Selatan yang mengelilingi Antarktika diidentifikasi sebagai tempat dengan udara terbersih di Bumi.


Minimnya aktivitas manusia di lautan yang disebut juga sebagai Samudra Antarktika ini berkontribusi pada kondisi udara bersih.


Studi pertama mengenai komposisi bioaerosol di Samudra Selatan oleh para peneliti dari Colorado State University, Amerika Serikat menemukan, wilayah atmosfer di lingkungan ini tidak berubah akibat aktivitas manusia.


Polusi udara disebabkan oleh aerosol, yaitu partikel padat dan cair serta gas yang tersuspensi di udara.


Partikel tersebut dihasilkan oleh aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, produksi pupuk, dan pembuangan air limbah.


Para peneliti menemukan, lapisan batas udara yang mengaliri awan bagian bawah di atas Samudra Selatan bebas dari partikel aerosol.


Penyebab Samudra Antarktika punya udara terbersih di dunia


Selain kurangnya aktivitas manusia, penelitian terbaru dalam jurnal Climate and Atmospheric Science mengungkapkan kemungkinan lain penyebab bersihnya udara Samudra Selatan.


Studi yang terbit pada 22 Maret 2024 tersebut melaporkan, terdapat sumber partikel halus alami, seperti garam dari semprotan laut atau debu terbawa angin, yang mungkin berkontribusi.


"Penelitian terbaru kami menemukan bahwa awan dan hujan memainkan peran penting dalam membersihkan atmosfer," tulis para peneliti dalam The Conversation, Jumat (5/4/2024).


Menurut peneliti, tingkat aerosol di Samudra Selatan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal ini termasuk jumlah semprotan garam dan variasi musiman dalam pertumbuhan organisme kecil mirip tumbuhan (fitoplankton) yang merupakan sumber partikel sulfat di udara.


Saat udara di Samudra Selatan paling murni, yakni selama musim dingin, maka lebih sedikit sulfat yang dihasilkan.


Di sisi lain, Samudra Selatan juga merupakan tempat paling berawan di Bumi. Wilayah ini mengalami hujan sporadis berumur pendek yang berbeda dengan wilayah lainnya.


"Kami ingin memahami peran awan dan hujan dalam membersihkan udara (di Samudra Selatan)," tutur peneliti.


Secara khusus, peneliti mencari pola awan dengan bentuk menyerupai sarang lebah yang berperan besar dalam mengatur iklim.


Saat "rongga" sarang lebah dipenuhi awan atau tertutup, kumpulan awan akan menjadi lebih putih dan terang, memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke angkasa.


"Jadi awan ini membantu menjaga Bumi tetap sejuk," kata peneliti.


Sebaliknya, "rongga" sarang lebah yang kosong atau terbuka akan membiarkan lebih banyak sinar Matahari masuk.


Awan "terbuka" bantu bersihkan polusi


Peneliti kemudian membandingkan pola awan sarang lebah dengan pengukuran aerosol dari Observatorium Kennaook (Cape Grim), Tasmania, Australia, serta pengamatan curah hujan dari alat pengukur hujan terdekat.


Hasil menunjukkan, hari-hari dengan udara terbersih di Samudra Selatan justru dikaitkan dengan keberadaan awan sarang lebah terbuka.


"Kami menduga hal ini disebabkan oleh awan yang menghasilkan hujan lebat secara sporadis namun intens, yang tampaknya 'mencuci' partikel aerosol dari udara," ungkap peneliti.


Meski berlawanan dengan intuisi, ternyata pola terbuka mengandung lebih banyak kelembapan dan menghasilkan lebih banyak hujan dibandingkan awan tertutup.


"Kami menemukan awan sarang lebah yang terbuka menghasilkan hujan enam kali lebih banyak dibandingkan awan yang tertutup," lanjutnya.


Oleh karena itu, cuaca yang terlihat tidak terlalu berawan menurut satelit sebenarnya memicu hujan yang paling efektif untuk menghilangkan aerosol.


Sementara pola awan sarang lebah yang terisi atau tertutup dan terlihat lebih keruh ditemukan kurang efektif menghilangkan sisa aktivitas manusia.


"Kami menemukan sarang lebah yang kosong jauh lebih umum terjadi selama bulan-bulan musim dingin, ketika udara paling bersih," tuturnya.


Curah hujan jadi kunci udara bersih


Para peneliti pun menyimpulkan, curah hujan adalah kunci mengapa Samudra Selatan memiliki udara terbersih di Bumi.


Terlebih, hujan dari awan berbentuk sarang lebah yang jernih dan terbuka tampak benar-benar bertanggung jawab membersihkan semua udara yang mengalir di Samudra Selatan.


Pola sarang lebah yang sama juga ditemukan di wilayah Atlantik Utara dan Pasifik Utara selama musim dingin.


"Hujan menghilangkan aerosol dari langit dengan cara yang sama seperti mesin cuci membersihkan pakaian," terang peneliti.