Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Asal Beli! Ini 3 Ciri Tempe yang Tidak Layak Dikonsumsi Menurut Koki

Januari 08, 2026 Last Updated 2026-01-08T10:41:23Z

 


Tempe menjadi salah satu bahan makanan yang hampir selalu ada di dapur masyarakat Indonesia. Setiap kali pergi ke pasar, banyak orang tak pernah lupa membeli tempe untuk stok di rumah. Selain murah dan bergizi, tempe juga mudah diolah menjadi berbagai menu lezat, seperti tempe goreng, orek tempe, hingga kering tempe.


Namun, kebiasaan membeli tempe dalam jumlah banyak juga perlu dibarengi dengan kewaspadaan. Pasalnya, tidak semua tempe yang dijual di pasaran berada dalam kondisi baik. Jika salah memilih, tempe justru bisa cepat busuk dan tidak layak dikonsumsi.


Seorang koki dari Hotel Santika Cirebon, Aguk Prasetiyo, membagikan tips penting dalam memilih tempe yang masih segar dan aman dikonsumsi. Ia mengingatkan agar masyarakat menghindari tempe dengan ciri-ciri tertentu karena menandakan kualitasnya sudah menurun.


Berikut tiga ciri tempe yang sebaiknya tidak dibeli.


1. Warna Tempe Kecokelatan


Hal pertama yang perlu diperhatikan saat membeli tempe adalah warnanya. Tempe yang segar umumnya berwarna kuning pucat dengan jamur berwarna putih bersih yang menyelimuti kedelai.


Jika Anda menemukan tempe dengan warna kecokelatan atau jamurnya mulai menggelap, sebaiknya hindari. Menurut Chef Aguk, perubahan warna ini menandakan tempe sudah mulai mengalami proses pembusukan.


Tempe dengan warna yang tidak normal biasanya juga memiliki rasa yang sudah berubah dan tidak enak saat dimasak.


2. Tekstur Mudah Hancur


Ciri berikutnya adalah tekstur tempe yang mudah hancur. Tempe segar memiliki tekstur padat, rapat, dan jamurnya menyatu seperti kapas.


Saat membeli, coba tekan tempe secara perlahan. Tempe yang baik akan terasa keras dan tidak mudah patah. Sebaliknya, jika tempe terasa lembek, butiran kedelainya mudah terlepas, atau tampak terlalu basah, itu menandakan kualitasnya sudah menurun.


Tempe dengan kondisi seperti ini biasanya akan cepat busuk meski disimpan di kulkas.


3. Aroma Jamur Menyengat


Tempe memang berasal dari proses fermentasi, sehingga wajar jika memiliki aroma khas jamur. Namun, tempe yang masih bagus tidak akan mengeluarkan bau menyengat atau sangit.


Jika saat dihirup aromanya terasa terlalu tajam, asam, atau tidak sedap, sebaiknya jangan dibeli. Bau menyengat merupakan tanda bahwa tempe sudah mulai rusak dan tidak aman dikonsumsi.


Aroma menjadi indikator penting karena sering kali pembusukan belum terlihat secara kasat mata, tetapi sudah tercium dari baunya.


Tips Menyimpan Tempe Agar Tidak Cepat Rusak


Setelah membeli tempe yang segar, penyimpanan juga perlu diperhatikan. Tempe sebaiknya tidak terlalu lama disimpan di kulkas tanpa diolah.


Secara umum, tempe hanya bertahan sekitar 3–5 hari dalam kondisi segar. Untuk memperpanjang daya simpan, tempe bisa dipotong dan disimpan dalam wadah tertutup, atau langsung diolah dan disimpan dalam bentuk matang.


Hindari menyimpan tempe dalam kondisi basah atau terbuka karena akan mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur.


Kesimpulan


Memilih tempe yang segar tidak bisa dilakukan secara asal. Warna, tekstur, dan aroma menjadi tiga indikator utama yang harus diperhatikan. Menghindari tempe yang kecokelatan, mudah hancur, dan berbau menyengat dapat membantu Anda mendapatkan tempe berkualitas dan aman dikonsumsi.


Dengan memilih tempe yang tepat, masakan di rumah tidak hanya lebih lezat, tetapi juga lebih sehat untuk seluruh keluarga.