Notification

×

Iklan

Iklan

SBY Nilai Perang Dunia Ketiga Sangat Mungkin Terjadi, Ruang Pencegahan Kian Sempit

Januari 20, 2026 Last Updated 2026-01-20T05:45:02Z



Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai Perang Dunia Ketiga sangat mungkin terjadi, meskipun ia masih meyakini bahwa bencana global tersebut dapat dicegah. Namun, menurut SBY, ruang dan waktu untuk mencegah perang besar itu semakin menyempit.


“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” tulis SBY melalui akun X miliknya, Senin (19/1/2026).


SBY menyebut bahwa dari hari ke hari, peluang dunia untuk menghindari konflik global berskala besar semakin kecil. Ia mengaku terus mengikuti dinamika global selama tiga tahun terakhir, terutama perkembangan geopolitik, keamanan internasional, dan potensi konflik antarnegara besar.


Sebagai tokoh yang telah puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian dunia, serta sejarah peperangan, SBY mengaku merasa cemas terhadap kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga.


“Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi, kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ujar SBY.


SBY menyoroti adanya kemiripan antara situasi global saat ini dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945). Ia menilai, tanda-tanda yang dahulu mendahului dua perang besar tersebut kini kembali terlihat.


“Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas,” kata SBY.


Menurutnya, sejarah mencatat bahwa meskipun tanda-tanda perang besar sudah tampak jelas, dunia kerap gagal mengambil langkah nyata untuk mencegahnya. Hal itu disebabkan oleh kurangnya kesadaran, kepedulian, dan keberanian politik dari negara-negara yang terlibat.


SBY pun menyampaikan harapan agar perang dunia, terutama yang melibatkan senjata nuklir, tidak sampai terjadi. Berdasarkan sejumlah kajian, ia menyebut perang dunia total akan membawa kehancuran yang tak terbayangkan.


“Jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Lebih dari 5 miliar manusia bisa menjadi korban, bahkan ada kemungkinan tidak ada peradaban yang tersisa,” ujar SBY.


Meski menekankan pentingnya doa, SBY menilai upaya penyelamatan dunia tidak cukup hanya mengandalkan harapan spiritual tanpa tindakan nyata. Ia mengingatkan bahwa pembiaran terhadap kejahatan dan agresi justru akan mempercepat kehancuran global.


“Mari kita berbicara dan berupaya. Kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia,” kata SBY mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein.


Dalam pernyataannya, SBY juga mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil peran lebih aktif dengan menginisiasi Sidang Umum Darurat PBB (Emergency UN General Assembly) yang melibatkan para pemimpin dunia.


“Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” ujarnya.


SBY mengakui bahwa posisi PBB saat ini tidak cukup kuat, namun menegaskan bahwa organisasi dunia tersebut tidak boleh dicatat sejarah sebagai lembaga yang melakukan pembiaran.


“Mungkin seruan itu tak diindahkan. Tetapi bisa juga menjadi awal kesadaran dan langkah nyata bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini,” tutup SBY.