Kemacetan kronis di sekitar Stasiun Bekasi dan Bulak Kapal yang selama bertahun-tahun dikeluhkan warga kini memasuki babak baru. Dua proyek infrastruktur strategis, yakni underpass Jalan Perjuangan dan flyover Jalan Pahlawan Bulak Kapal, resmi dipacu menuju tahap realisasi.
Selama ini, perlintasan sebidang di Jalan Perjuangan dekat Stasiun Bekasi menjadi salah satu simpul kemacetan terparah di Kota Bekasi. Setiap kali palang pintu kereta tertutup, antrean kendaraan bisa mengular panjang, terutama saat jam sibuk pagi dan sore hari.
Target Underpass Rampung 2028–2029
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa pembangunan underpass di Jalan Perjuangan ditargetkan selesai pada 2028–2029.
Underpass ini dirancang untuk menghilangkan perlintasan sebidang yang selama ini menjadi sumber kepadatan lalu lintas. Kawasan tersebut dikenal sebagai titik mobilitas tinggi karena menjadi akses utama masyarakat menuju transportasi kereta api serta pusat kegiatan ekonomi.
Jika terealisasi sesuai jadwal, proyek ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh warga secara signifikan dan meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Dampak Sosial dan Relokasi Fasilitas
Realisasi proyek tentu membawa konsekuensi. Sejumlah fasilitas di sekitar lokasi terdampak, termasuk gedung Palang Merah Indonesia (PMI) dan lapangan tenis.
Pemerintah Kota Bekasi telah menyiapkan skema relokasi ke wilayah Kelurahan Kayuringin Jaya. Gedung PMI akan dipindahkan ke area SD Kayuringin, sementara fasilitas olahraga akan dibangun kembali di lokasi baru sebagai pengganti.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari penataan kawasan agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan sosial masyarakat.
Flyover Bulak Kapal Didorong Tuntas
Selain underpass, proyek flyover di Jalan Pahlawan Bulak Kapal juga menjadi prioritas. Tahap pembebasan lahan ditargetkan rampung pada 2026.
Pembangunan fisik flyover nantinya akan dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sementara Pemkot Bekasi bertanggung jawab pada penyediaan lahan.
Saat ini, dukungan anggaran dari provinsi disebut baru mencapai sekitar Rp30 miliar dari total kebutuhan Rp250 miliar. Meski begitu, terdapat komitmen bahwa pembangunan akan dilanjutkan penuh setelah pembebasan lahan selesai.
Bukan Sekadar Soal Macet
Kemacetan di dua titik tersebut bukan hanya persoalan antrean kendaraan. Dampaknya meluas pada produktivitas warga dan efisiensi distribusi barang. Banyak pengendara harus mengalokasikan waktu tambahan hanya untuk melewati perlintasan kereta, belum lagi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang yang selalu mengintai.
Solusi perlintasan tidak sebidang melalui underpass dan flyover sebenarnya telah lama dinantikan masyarakat. Namun, wacana tersebut sempat tersendat akibat kendala pembebasan lahan dan keterbatasan anggaran.
Kini, dengan target waktu yang lebih jelas serta pembagian peran antara pemerintah kota dan provinsi, optimisme warga kembali tumbuh.
Harapan Wajah Baru Mobilitas Bekasi
Percepatan dua proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem transportasi perkotaan yang lebih tertib, aman, dan efisien di Kota Bekasi.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, kemacetan yang selama ini menjadi “langganan harian” di sekitar Stasiun Bekasi dan Bulak Kapal diharapkan berubah menjadi arus lalu lintas yang lebih lancar dan terintegrasi dalam beberapa tahun ke depan.
