Nama Cholil Nafis sudah tidak asing lagi di kalangan umat Muslim Indonesia. Sosok yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu kerap hadir di layar televisi dengan gaya ceramah yang tenang, sejuk, dan argumentatif.
Namun siapa sangka, perjalanan pria kelahiran Sampang, Madura, 1 Juni 1975 ini menjadi “kiai” justru berawal dari sesuatu yang ia sebut sebagai sebuah “kecelakaan hidup”.
Latar Keluarga Pesantren yang Kuat
KH Cholil Nafis lahir dari keluarga yang akrab dengan dunia pesantren dan pendidikan agama. Dari jalur ibunya, ia berasal dari keluarga kiai yang memiliki pesantren. Sementara dari pihak ayah, latar belakangnya adalah pengusaha.
Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Sebagian besar keluarganya menekuni bidang keagamaan dan pendidikan. Salah satu kakaknya, Amtur Rahman Hafiz, aktif sebagai Wakil Ketua MUI Jawa Timur serta Ketua PWNU Jawa Timur.
Dalam kehidupan pribadinya, KH Cholil menikah dengan Fairuz dan dikaruniai empat anak: Najma, Najwa, Hasby Cholili, dan ’Aisyah Farhana. Keluarga ini menetap di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Tradisi pesantren yang kuat di keluarganya menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan keilmuan yang ia miliki hingga kini.
Pendidikan Panjang dari Pesantren hingga Doktoral
Sejak kecil, KH Cholil sudah akrab dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Syafi’iyah Al-Ihsan Jrangoan, Sampang.
Ia melanjutkan ke Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Madrasah Aliyah Al Miftah Pamekasan sebelum merantau ke Jakarta.
Di ibu kota, ia menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta dan meraih gelar Lc, kemudian memperoleh gelar Sarjana Agama. Pendidikan pascasarjana ia selesaikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan gelar M.A.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi doktoral di Universiti Malaya dengan konsentrasi ekonomi syariah. Ia juga pernah menjalani program post-doctoral di Muhammad V University, Maroko.
Selain pendidikan formal, ia mengantongi berbagai sertifikasi, termasuk pengawas syariah dari Dewan Syariah Nasional dan Bank Indonesia.
Karier Akademik dan Kiprah Organisasi
Sebagai akademisi, KH Cholil berstatus PNS dengan pangkat Pembina IVB dan jabatan Lektor Kepala. Sejak 2004, ia menjadi staf pengajar ekonomi dan keuangan syariah di Pascasarjana Universitas Indonesia, serta aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam.
Di ranah organisasi, kiprahnya sangat luas. Ia pernah aktif di PMII dan KNPI sejak masa mahasiswa. Kini, selain menjadi Wakil Ketua Umum MUI, ia juga menjabat Ra’is Syuriah PBNU dan Mustasyar PWNU Jawa Barat.
Dalam kapasitasnya di MUI, ia kerap menyampaikan pandangan terkait isu-isu kontemporer seperti dakwah di media, nasionalisme dalam Islam, hingga ekonomi dan layanan kesehatan berbasis syariah.
Aktivitas Sosial dan Peran Internasional
Tak hanya di tingkat nasional, KH Cholil juga aktif secara internasional. Ia terlibat dalam International Conference of Islamic Scholars (ICIS) serta forum lintas agama.
Di bidang sosial, ia membina Yayasan Investasi Cendekia Amanah dan mengasuh Pesantren Cendekia Amanah di Depok. Ia juga menggagas BMT Wakaf dan program Berantas Buta Al-Qur’an (BBQ) sebagai bentuk kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Kisah Tak Terduga di Balik Panggilan “Kiai”
Menariknya, KH Cholil mengaku awalnya tidak bercita-cita menjadi kiai. Saat kuliah di Jakarta dan aktif di PMII, ia lebih ingin dikenal sebagai aktivis dan intelektual.
Ia sering tampil di televisi sebagai narasumber dalam kapasitas akademisi, membahas isu keislaman, kesehatan, hingga keluarga berencana. Saat itu, ia belum dipanggil “kiai”.
Perubahan terjadi ketika ia bertemu dengan almarhum Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU. Ia diminta mendampingi ceramah di salah satu stasiun televisi.
Sejak momen itulah, undangan ceramah berdatangan dan publik mulai menyematkan panggilan “kiai” kepadanya.
Bagi KH Cholil, perjalanan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa jalan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Kadang, takdir justru membawa seseorang pada peran yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
