Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, menu telur yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar (SD) di Tulungagung, Jawa Timur, ditemukan masih terdapat kotoran ayam di cangkangnya.
Temuan ini langsung menuai reaksi dari orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Mereka mempertanyakan standar kebersihan dalam distribusi makanan untuk anak-anak sekolah.
Warga Soroti Kebersihan Telur MBG
Seorang warga bernama Herlambang mengungkapkan, keponakannya menerima paket MBG berisi telur, roti, susu, dan salad buah. Namun, saat hendak dikonsumsi, telur tersebut diketahui masih terdapat kotoran ayam dan bahkan dalam kondisi retak.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran soal dampak kesehatan jika tetap dikonsumsi anak-anak. Ia mempertanyakan apakah telur tersebut telah melalui proses pencucian dan pengecekan kualitas sebelum dibagikan.
Ia juga meminta pihak penyedia layanan SPPG lebih cermat dalam menyiapkan menu. Jika kejadian serupa terus terjadi, dikhawatirkan tujuan baik program pemerintah pusat bisa tercoreng akibat lemahnya pengawasan di lapangan.
Satgas MBG Akan Lapor ke BGN Tulungagung
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Satgas MBG Tulungagung, Bagus Kuncoro, memastikan pihaknya akan melaporkan keluhan itu kepada Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Tulungagung untuk ditindaklanjuti.
Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi terhadap proses distribusi dan standar kebersihan bahan makanan dalam program MBG. Evaluasi diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali di sekolah lain.
Pentingnya Standar Higienitas Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah, khususnya di tingkat SD. Menu seperti telur, susu, roti, dan buah bertujuan mendukung pertumbuhan serta konsentrasi belajar siswa.
Namun, kualitas dan higienitas bahan makanan menjadi kunci utama keberhasilan program. Telur yang tidak dibersihkan dengan baik berpotensi membawa bakteri dari kotoran ayam yang menempel di cangkang.
Kasus di Tulungagung ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat mulai dari pengadaan bahan, proses penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh agar program MBG benar-benar memberi manfaat optimal bagi anak-anak, tanpa menimbulkan risiko kesehatan di kemudian hari.
