Notification

×

Iklan

Iklan

Gas Industri Tembus USD12! Menkeu Purbaya Desak Blok Masela Jual Lebih Murah ke Dalam Negeri

Februari 24, 2026 Last Updated 2026-02-24T12:59:37Z


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi perhatian serius terhadap skema harga gas dari proyek raksasa Blok Masela. Ia menilai harga gas yang saat ini berada di atas USD12 per MMBTU terlalu tinggi dan membebani pelaku industri dalam negeri.


Dalam rapat koordinasi percepatan proyek strategis tersebut, Purbaya menekankan bahwa produksi gas besar dari Lapangan Abadi seharusnya bisa menjadi motor penggerak industri nasional, bukan hanya berorientasi pada pasar ekspor global.


Menurutnya, pemerintah perlu mencari formulasi agar gas dari proyek ini dapat dijual dengan harga lebih kompetitif untuk kebutuhan domestik.


Soroti Keekonomian Proyek Blok Masela


Proyek Blok Masela digarap oleh Inpex Corporation melalui pengembangan fasilitas Onshore LNG Abadi.


Dalam rapat tersebut, Purbaya secara langsung mempertanyakan batas harga keekonomian yang dianggap layak oleh Inpex agar proyek tetap menguntungkan namun tidak memberatkan industri nasional.


Ia meminta transparansi terkait harga pasar yang dianggap realistis untuk menjaga kelangsungan operasional fasilitas produksi.


Investasi Jumbo USD21 Miliar


Blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional dengan nilai investasi mencapai USD21 miliar atau sekitar Rp352 triliun.


Proyek ini dirancang memiliki kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) serta 150 MMSCFD gas pipa. Cadangan gasnya diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF) yang berada di Laut Arafura.


Namun, pihak Inpex mengakui bahwa proyek ini memiliki tingkat keuntungan yang sangat tipis secara global. Project Director Inpex Masela, Harrad Blinco, menyebutkan bahwa kenaikan biaya investasi pembangunan kilang LNG menjadi tantangan utama.


Tantangan Teknologi dan Target 2055


Selain faktor keekonomian, proyek ini juga menghadapi kompleksitas teknis seperti pengeboran laut dalam (deepwater) serta penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).


Meski demikian, Blok Masela diproyeksikan menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja dan beroperasi hingga tahun 2055.


Pemerintah Cari Titik Tengah


Pemerintah kini berada di posisi mencari keseimbangan antara kepentingan investor dan kebutuhan industri nasional. Di satu sisi, proyek harus tetap menarik secara bisnis bagi pengembang. Di sisi lain, harga gas yang kompetitif menjadi kunci untuk memperkuat struktur industri dalam negeri.


Jika skema harga dapat dirumuskan secara tepat, Blok Masela berpotensi menjadi sumber energi strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.