Notification

×

Iklan

Iklan

Batu Bara Menggila! Harga Melejit 17% dalam 2 Hari, Tertinggi Sejak 2024

Maret 04, 2026 Last Updated 2026-03-04T00:29:02Z


Harga batu bara dunia melonjak tajam dan mencapai level tertinggi dalam 14 bulan terakhir di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Lonjakan ini dipicu ketidakpastian pasokan energi global setelah penutupan jalur strategis Selat Hormuz.


Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), kontrak batu bara April ditutup di posisi US$138 per ton, naik 7,3% dalam sehari. Harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak 26 November 2024.


Tidak hanya itu, dalam dua hari terakhir harga batu bara sudah melonjak total 17,2%, memperpanjang reli signifikan di pasar komoditas energi.


Dampak Penutupan Selat Hormuz


Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 22% pasokan minyak dunia dan hampir 20% perdagangan global gas alam cair (LNG).


Penutupan ini langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak tercatat melonjak sekitar 5% dalam sehari, sementara harga gas bahkan melesat hingga 23%.


Kondisi tersebut memicu kekhawatiran krisis pasokan gas, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor LNG dari Timur Tengah.


Utilitas Beralih ke Batu Bara (Fuel Switching)


Lonjakan harga gas membuat sejumlah perusahaan utilitas mulai melakukan fuel switching, yakni beralih dari gas ke batu bara sebagai sumber energi alternatif yang dinilai lebih ekonomis dalam jangka pendek.


Negara-negara Asia seperti Pakistan, India, dan Bangladesh yang selama ini bergantung pada LNG Timur Tengah diperkirakan akan meningkatkan konsumsi batu bara untuk menjaga stabilitas pasokan listrik.


Di India, harga batu bara termal asal Afrika Selatan yang masuk melalui pelabuhan domestik dilaporkan melonjak tajam secara mingguan. Kenaikan ini dipengaruhi biaya pengiriman yang ikut terdorong naik akibat ketegangan geopolitik global.


Meski harga naik signifikan, sejumlah pembeli masih bersikap hati-hati dan belum sepenuhnya menerima lonjakan harga, terutama karena pasokan kargo yang terbatas.


China Justru Melemah, Permintaan Baja Lesu


Berbeda dengan pasar Asia Selatan, pasar batu bara kokas di China justru menunjukkan tren melemah pada awal Maret 2026.


Tekanan datang dari meningkatnya pasokan domestik serta permintaan yang cenderung hati-hati dari pabrik baja. Margin industri baja yang tertekan membuat ekspektasi penurunan harga, khususnya untuk kokas, semakin kuat.


Selain itu, rencana perawatan (maintenance) sejumlah fasilitas industri menjelang agenda politik tahunan pemerintah China juga turut membatasi permintaan.


Prospek Harga ke Depan


Kenaikan tajam harga batu bara menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gejolak geopolitik. Jika konflik di Timur Tengah berlanjut dan distribusi energi global terus terganggu, reli harga batu bara berpotensi berlanjut.


Namun, faktor permintaan dari China serta respons kebijakan negara-negara konsumen besar akan menjadi penentu arah harga berikutnya.


Pasar kini menanti, apakah lonjakan ini hanya reaksi jangka pendek atau awal dari siklus kenaikan baru di sektor energi global.