Sekitar 40 negara dijadwalkan menggelar pertemuan penting pada Jumat (17/4) untuk membahas situasi terkini di Selat Hormuz, yang kini menjadi pusat ketegangan global.
Pertemuan ini dipimpin oleh Prancis dan Inggris, dengan tujuan utama memastikan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz tetap terbuka dan aman seperti sebelumnya. Agenda ini menjadi krusial mengingat peran selat tersebut sebagai jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.
Menurut laporan Reuters, pertemuan juga akan membahas dampak ekonomi yang mulai dirasakan industri pelayaran global, serta keselamatan lebih dari 20 ribu pelaut yang kini tertahan di kapal-kapal di sekitar wilayah konflik.
Krisis ini bermula ketika Iran menutup jalur maritim Selat Hormuz setelah mendapat serangan dari Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Penutupan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia karena terganggunya distribusi energi global.
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat turut melakukan blokade terhadap Selat Hormuz pada 13 April, menyusul gagalnya perundingan damai antara Washington dan Teheran di Pakistan.
Langkah ini menuai kritik dari berbagai negara. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump tetap mendorong sekutu-sekutunya untuk ikut serta dalam blokade guna meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Namun, sejumlah negara Eropa seperti Prancis dan Inggris menolak terlibat langsung dalam blokade karena khawatir hal itu akan memperkeruh konflik dan menyeret mereka ke dalam perang terbuka. Mereka lebih memilih mendukung upaya menjaga kebebasan navigasi setelah tercapainya gencatan senjata permanen.
Dalam pertemuan ini, para pemimpin dunia juga akan membahas kemungkinan pembentukan kekuatan militer multinasional yang bersifat defensif, guna mengamankan jalur pelayaran tanpa memperburuk eskalasi konflik.
Menariknya, pertemuan penting ini tidak melibatkan Amerika Serikat maupun Iran. Meski begitu, para diplomat Eropa menilai bahwa solusi jangka panjang tetap membutuhkan koordinasi dengan kedua negara tersebut.
Sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan hadir langsung di Paris, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, serta Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Sementara perwakilan negara lain akan mengikuti pertemuan secara virtual.
Selain itu, China juga diundang untuk berpartisipasi, meski hingga kini belum ada kepastian apakah Beijing akan ikut serta.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan stabilitas di salah satu jalur energi terpenting dunia.(Rhz2797)
