Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings resmi menurunkan outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menilai penilaian tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor pemerintahan baru.
Meski prospek diturunkan, peringkat utang Indonesia masih berada di level BBB, yang berarti tetap masuk kategori investment grade atau layak investasi. Namun, perubahan outlook ini menandakan adanya kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Purbaya: Pemerintahan dan Menkeu Masih Baru
Dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada Senin (9/3/2026), Purbaya menjelaskan bahwa lembaga pemeringkat internasional mungkin masih menilai pemerintah baru dengan penuh kehati-hatian.
Menurutnya, faktor lain yang mungkin memengaruhi penilaian tersebut adalah karena dirinya belum banyak melakukan komunikasi langsung dengan investor global.
Ia bahkan mengakui belum melakukan kunjungan ke luar negeri sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan. Awalnya, Purbaya berkomitmen tidak bepergian ke luar negeri sebelum pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen.
Namun, setelah adanya evaluasi dari Fitch, ia menilai pendekatan tersebut perlu diubah.
“Saya harus mulai menjelaskan langsung kondisi ekonomi Indonesia kepada investor,” ujarnya.
April 2026 Purbaya Akan Temui Investor Global
Untuk memperkuat kepercayaan pasar internasional, Purbaya mengungkapkan rencana kunjungan luar negeri pada April 2026.
Agenda tersebut dilakukan bersamaan dengan pertemuan IMF–World Bank di Washington DC, Amerika Serikat.
Dalam pertemuan itu, ia berencana menjelaskan secara langsung kondisi fiskal Indonesia serta kebijakan ekonomi pemerintah kepada investor dan lembaga keuangan global.
Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan baru.
Program Makan Bergizi Gratis Ikut Disorot
Salah satu kebijakan yang turut menjadi perhatian Fitch adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas pemerintah.
Purbaya menilai program tersebut memiliki dampak jangka panjang yang sangat baik, terutama bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, jika program ini berjalan optimal, generasi muda Indonesia bisa tumbuh lebih sehat dan memiliki kualitas fisik yang lebih baik.
Ia juga menegaskan bahwa program baru seperti MBG tentu membutuhkan waktu untuk berjalan sempurna.
Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar implementasinya semakin efektif.
Fitch Khawatirkan Defisit dan Kebijakan Fiskal
Dalam laporan yang dirilis pada 4 Maret 2026, Fitch menyatakan bahwa perubahan outlook menjadi negatif mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi di Indonesia.
Lembaga tersebut juga menyoroti kemungkinan pelonggaran kebijakan fiskal, terutama jika target pertumbuhan ekonomi yang ambisius tidak diimbangi dengan disiplin anggaran.
Fitch menilai rencana pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen serta meningkatkan pengeluaran sosial berpotensi memperbesar tekanan fiskal.
Selain itu, mereka juga menyoroti rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang masuk dalam Prolegnas Prioritas 2026. Revisi tersebut berpotensi membuka ruang pelonggaran batas defisit anggaran yang selama ini dijaga di 3 persen dari PDB.
Jika aturan tersebut berubah, Fitch khawatir kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia dapat terpengaruh.
Purbaya: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Meski begitu, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat.
Ia menyoroti beberapa indikator utama yang menurutnya tetap aman, seperti:
- Rasio utang terhadap PDB yang masih terkendali
- Defisit anggaran yang masih dalam batas aman
- Pertumbuhan ekonomi yang termasuk tertinggi di antara negara G20
Bahkan, menurutnya, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara memiliki defisit lebih tinggi dibanding Indonesia.
Karena itu, ia mempertanyakan alasan Indonesia menjadi fokus perhatian dalam penilaian tersebut.
Purbaya optimistis bahwa dengan komunikasi yang lebih intens kepada investor global serta konsistensi kebijakan ekonomi, kepercayaan pasar terhadap Indonesia dapat tetap terjaga.
