Notification

×

Iklan

Iklan

Putra Ali Khamenei Resmi Pimpin Iran, Siapa Sebenarnya Mojtaba yang Dibenci AS?

Maret 09, 2026 Last Updated 2026-03-09T01:44:31Z

 

Iran kini memiliki pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Majelis Ahli Iran kemudian menunjuk putra mendiang pemimpin tersebut, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus jabatan tertinggi di Republik Islam Iran.


Penunjukan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa kelompok garis keras masih memegang pengaruh besar dalam struktur kekuasaan negara tersebut. Mojtaba dipilih lebih dari sepekan setelah kematian ayahnya di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.


Salah satu anggota Majelis Ahli, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan bahwa pemilihan pemimpin baru mengikuti arahan yang pernah disampaikan Ali Khamenei sebelum wafat.


Menurutnya, pemimpin tertinggi Iran seharusnya merupakan sosok yang tidak disukai oleh musuh negara.


Ia bahkan menyinggung pernyataan Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai figur yang tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat.


Sosok Berpengaruh di Balik Layar Kekuasaan


Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh yang berpengaruh di balik pemerintahan ayahnya. Meski jarang tampil di publik, ia diyakini memiliki jaringan kuat di dalam lembaga keamanan Iran, terutama Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).


Kedekatan dengan Garda Revolusi ini membuat pengaruh Mojtaba dalam sistem politik dan keamanan Iran semakin besar. Ia juga dikenal sebagai sosok yang menentang kelompok reformis yang ingin membuka hubungan lebih luas dengan negara Barat, khususnya terkait program nuklir Iran.


Peneliti IRGC dari organisasi United Against Nuclear Iran, Kasra Aarabi, menyebut Mojtaba memiliki basis dukungan kuat di kalangan anggota muda Garda Revolusi yang cenderung lebih radikal.


Di Iran sendiri, pemimpin tertinggi memiliki kekuasaan sangat besar. Jabatan tersebut mengontrol arah kebijakan negara, termasuk strategi militer, kebijakan luar negeri, hingga program nuklir.


Latar Belakang Mojtaba Khamenei


Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Syiah Mashhad. Ia tumbuh ketika ayahnya aktif dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah sebelum Iranian Revolution menggulingkan monarki pada 1979.


Saat masih muda, Mojtaba juga dilaporkan pernah terlibat dalam Iran–Iraq War. Setelah itu, ia menempuh pendidikan agama di Qom, pusat studi teologi Syiah di Iran.


Ia memperoleh gelar keagamaan Hojjatoleslam, yang berada satu tingkat di bawah gelar Ayatollah. Meski memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan resmi dalam struktur pemerintahan Iran.


Selama ini ia lebih dikenal sebagai figur yang bekerja di belakang layar dan jarang memberikan pidato atau tampil di forum publik.


Pernah Dijatuhi Sanksi Amerika Serikat


Nama Mojtaba Khamenei juga pernah masuk dalam daftar sanksi pemerintah Amerika Serikat. Pada 2019, United States Department of the Treasury menjatuhkan sanksi terhadapnya.


Washington menilai Mojtaba mewakili kepentingan ayahnya dalam berbagai aktivitas politik dan keamanan, meskipun tidak pernah memegang jabatan formal di pemerintahan.


Dalam pernyataannya, pemerintah AS menyebut Mojtaba bekerja erat dengan komandan Pasukan Quds IRGC serta milisi Basij.


AS menuduh aktivitas tersebut bertujuan memperluas pengaruh regional Iran sekaligus memperkuat kontrol domestik pemerintah terhadap masyarakat.


Kontroversi Politik Dinasti di Iran


Penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi juga memicu kontroversi di dalam negeri. Beberapa pihak menilai langkah tersebut menyerupai praktik politik dinasti, sesuatu yang dahulu menjadi alasan utama rakyat Iran menggulingkan monarki pada 1979.


Kritikus juga menilai Mojtaba belum memiliki kredensial keagamaan yang cukup untuk menduduki posisi tertinggi tersebut.


Namun namanya tetap menjadi kandidat kuat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah wafatnya mantan presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter pada 2024.


Selain itu, sejumlah laporan juga menyebut Mojtaba memiliki peran penting dalam naiknya Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran pada 2005.


Tantangan Besar di Dalam Negeri


Meski kini memegang jabatan tertinggi di Iran, Mojtaba Khamenei menghadapi tantangan besar di dalam negeri.


Dalam beberapa tahun terakhir, Iran dilanda berbagai gelombang protes masyarakat yang menuntut kebebasan lebih luas dan reformasi politik. Salah satu yang paling besar terjadi pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini, yang memicu demonstrasi nasional.


Kini, di tengah konflik geopolitik yang memanas serta tekanan dari Barat, kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah masa depan Iran.