Notification

×

Iklan

Iklan

Gus Husein Ja’far Ingatkan Soal Tambang: Bukan Sekadar Bisnis, Tapi Amanah untuk Bangsa

Maret 07, 2026 Last Updated 2026-03-07T10:54:48Z


Pengelolaan sumber daya alam di Indonesia kembali menjadi sorotan. Tokoh agama Husein Ja'far Al Hadar mengingatkan bahwa sektor pertambangan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai ladang bisnis, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.


Dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, Husein Ja’far menekankan bahwa manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi, yaitu pemimpin yang bertugas menjaga dan mengelola alam secara bijaksana.


“Kita ini khalifah, pemimpin di muka bumi, bukan penguasa. Maka tambang adalah amanah, bukan sekadar komoditas ekonomi,” ujarnya.


Menurutnya, pengelolaan mineral dan sumber daya alam (SDA) harus dilakukan secara etis agar kekayaan alam yang dimiliki dapat memberi manfaat luas bagi masyarakat dan generasi mendatang.


Tiga Prinsip Mengelola Sumber Daya Alam


Husein Ja’far menjelaskan ada tiga prinsip utama yang perlu diterapkan dalam pengelolaan kekayaan alam, khususnya di sektor pertambangan.


1. Mengedepankan Moral dan Etika


Prinsip pertama adalah menjalankan aktivitas pertambangan dengan landasan moral dan etika. Ia menilai bahwa konsep “mineral halal” tidak hanya berkaitan dengan jenis bahan tambang, tetapi juga proses bagaimana sumber daya tersebut diperoleh.


Menurutnya, kegiatan pertambangan tidak boleh merusak lingkungan, mengabaikan nilai kemanusiaan, maupun melanggar tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar.


“Mineral halal bukan hanya karena bendanya, tetapi karena cara mendapatkannya tidak merusak dan tidak melanggar nilai,” jelasnya.


2. Dilandasi Rasa Syukur


Prinsip kedua adalah rasa syukur atas karunia Tuhan berupa kekayaan alam. Husein Ja’far menilai pengolahan mineral hingga tahap hilirisasi merupakan bentuk syukur sekaligus upaya menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian bangsa.


Dengan mengelola sumber daya alam dari hulu hingga hilir, Indonesia dinilai dapat memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus memaksimalkan potensi yang dimiliki.


“Mengelola dan memberi nilai tambah pada mineral itu bentuk syukur. Ketika kita mengelola dari hulu sampai hilir, kita sedang menjaga amanah dan menjadi tuan di negeri sendiri,” ujarnya.


3. Berorientasi pada Kemaslahatan


Prinsip ketiga adalah menjadikan pengelolaan sumber daya alam berorientasi pada kemaslahatan bersama. Husein Ja’far menegaskan bahwa manfaat tambang seharusnya dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya segelintir pihak.


Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang berorientasi pada ekologi, bukan sekadar kepentingan pribadi atau kelompok.


“Prinsipnya kebaikan bersama. Tambang harus memberi nilai tambah bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan,” tuturnya.


Tambang Harus Jadi Berkah, Bukan Sumber Kerusakan

Husein Ja’far menegaskan bahwa pada dasarnya setiap aturan Tuhan ditujukan untuk kebaikan manusia. Karena itu, pengelolaan sumber daya alam harus diarahkan agar menjadi rahmat bagi kehidupan, bukan justru menimbulkan kerusakan.


Menurutnya, kesadaran bahwa sumber daya alam merupakan amanah akan melahirkan rasa tanggung jawab dalam mengelolanya.


“Kalau kita sadar ini amanah, maka yang lahir bukan keserakahan, tetapi tanggung jawab. Di situlah kekayaan alam bisa menjadi kemaslahatan bagi bangsa,” katanya.


Ia juga menekankan bahwa program keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam bukan sekadar pilihan, melainkan fondasi penting agar kekayaan alam dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini maupun generasi di masa depan.