Notification

×

Iklan

Iklan

Harga Minyak Dunia Meledak! Naik 35% dalam Sepekan, Ancaman Tembus US$150 per Barel

Maret 07, 2026 Last Updated 2026-03-07T00:07:28Z


Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (6/3/2026). Lonjakan ini dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung pada terganggunya pasokan energi global.


Kondisi semakin tegang setelah jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penutupan efektif. Selat ini merupakan salah satu jalur terpenting bagi distribusi minyak dunia.


Harga minyak melonjak tajam


Pada perdagangan terbaru, minyak mentah acuan dunia Brent ditutup di level US$93,34 per barel, melonjak sekitar 9,3% dalam sehari. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih tinggi lagi dan ditutup di US$90,9 per barel, melonjak sekitar 12,21%.


Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak Mei 2020, sekaligus membawa harga minyak ke level tertinggi sejak September 2023.


Secara mingguan, lonjakan harga bahkan jauh lebih dramatis. Harga minyak WTI melonjak 35,6% dalam sepekan, yang menjadi kenaikan terbesar sejak perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983.


Di sisi lain, harga minyak Brent juga meningkat tajam sekitar 28,7% sepanjang pekan.


Konflik Timur Tengah ganggu pasokan energi


Lonjakan harga minyak terjadi setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran beberapa waktu lalu. Iran kemudian merespons dengan menghentikan pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz.


Padahal, sekitar 20% pasokan minyak global biasanya melewati jalur laut tersebut setiap hari. Penutupan selama sekitar satu minggu membuat sekitar 140 juta barel minyak tidak dapat mencapai pasar global.


Gangguan pasokan ini memicu kepanikan di pasar energi karena banyak negara bergantung pada minyak dari kawasan Teluk.


Pasar mulai mencari pasokan alternatif


Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan para pelaku pasar kini berlomba mencari sumber pasokan minyak alternatif.


Menurutnya, kilang dan perusahaan perdagangan energi mulai meningkatkan pembelian dari produsen lain untuk menutup kekurangan pasokan dari Timur Tengah.


Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia menjadi salah satu alternatif utama bagi pasar global saat ini.


Harga minyak bisa tembus US$100 hingga US$150


Sejumlah analis memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak kemungkinan belum berakhir. Menteri Energi Qatar bahkan memperkirakan seluruh produsen energi di kawasan Teluk bisa menghentikan ekspor jika konflik terus memburuk.


Jika skenario tersebut terjadi, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$150 per barel.


Analis energi dari Again Capital, John Kilduff, mengatakan situasi terburuk mulai terlihat di pasar energi global.


Menurutnya, kemungkinan harga minyak menembus US$100 per barel dalam waktu dekat kini semakin besar.


Produksi minyak mulai terhenti


Dampak konflik juga dirasakan langsung oleh negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk. Beberapa negara bahkan mulai mengalami keterbatasan kapasitas penyimpanan karena ekspor terhambat.


Di Irak misalnya, produksi minyak dilaporkan telah dipangkas hingga seperempat dari total produksi sekitar 4,3 juta barel per hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.


Sementara itu, produsen besar seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab masih memiliki kapasitas penyimpanan, namun hanya cukup untuk beberapa hari jika ekspor terus terhambat.


Cadangan minyak global mulai dilirik


Untuk mengatasi krisis pasokan, beberapa negara mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan minyak strategis mereka.


Negara-negara anggota International Energy Agency memiliki aturan untuk menyimpan cadangan minyak minimal setara 90 hari impor sebagai langkah antisipasi terhadap krisis energi.


Amerika Serikat sendiri saat ini memiliki lebih dari 400 juta barel cadangan minyak strategis, meskipun kapasitas total penyimpanannya mencapai sekitar 700 juta barel.


Namun para analis memperingatkan bahwa cadangan minyak global tetap memiliki batas. Jika gangguan pasokan dari Timur Tengah berlangsung lama, pasar energi dunia bisa menghadapi krisis yang lebih besar.


Situasi ini membuat proyeksi pasar berubah drastis. Sebelumnya, banyak analis memperkirakan pasokan minyak global akan mengalami surplus pada 2026. Namun konflik yang terjadi sekarang justru membuka kemungkinan kekurangan pasokan energi dalam skala besar di seluruh dunia.