Kasus Kanker Kolorektal atau kanker usus besar kini tidak lagi identik dengan penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan mencatat peningkatan kasus pada kelompok usia yang lebih muda.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena banyak penderita baru menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium lanjut. Padahal, deteksi dini sangat menentukan peluang keberhasilan pengobatan.
Apa itu kanker usus?
Kanker usus merupakan pertumbuhan sel abnormal di bagian usus besar (kolon) atau rektum. Penyakit ini biasanya berkembang secara perlahan dan sering diawali oleh polip, yaitu benjolan kecil di dinding usus yang seiring waktu dapat berubah menjadi ganas.
Jika tidak terdeteksi sejak awal, sel kanker bisa menyebar ke bagian tubuh lain dan menjadi lebih sulit diobati.
Mengapa kanker usus bisa menyerang usia muda?
Secara medis, tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan meningkatnya kasus kanker usus pada usia muda. Namun, sejumlah faktor risiko diduga berperan besar dalam memicu penyakit ini.
Berikut beberapa faktor yang paling sering dikaitkan dengan kanker usus:
1. Pola makan tidak sehat
Konsumsi daging merah dan makanan olahan secara berlebihan, serta kurangnya asupan serat dari sayur dan buah, dapat meningkatkan risiko kanker usus.
2. Gaya hidup kurang aktif
Kebiasaan duduk terlalu lama atau minim aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker kolorektal.
3. Obesitas
Kelebihan berat badan dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh yang berpotensi memicu perkembangan sel kanker.
4. Faktor keturunan
Riwayat keluarga dengan kanker usus dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit yang sama.
5. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Dua kebiasaan ini diketahui dapat merusak sel tubuh dan memicu mutasi genetik yang berujung pada kanker.
6. Penyakit radang usus kronis
Beberapa penyakit seperti Kolitis Ulseratif dan Penyakit Crohn dapat menyebabkan peradangan jangka panjang pada usus yang meningkatkan risiko kanker.
7. Kelainan genetik tertentu
Beberapa sindrom turunan seperti Lynch Syndrome juga diketahui meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus di usia yang lebih muda.
Gejala kanker usus yang sering diabaikan
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker usus adalah gejalanya yang sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Perubahan pola buang air besar seperti diare atau sembelit berkepanjangan
- Feses bercampur darah atau berwarna sangat gelap
- Nyeri atau kram perut yang terus-menerus
- Perut terasa kembung dan tidak nyaman
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
- Tubuh mudah lelah
- Sensasi buang air besar yang tidak tuntas
Jika gejala tersebut berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis.
Mengapa kanker usus sering terlambat terdeteksi?
Pada usia muda, banyak orang tidak langsung mencurigai kanker sebagai penyebab keluhan pencernaan. Bahkan dokter pun sering mempertimbangkan penyakit lain yang lebih umum terlebih dahulu.
Akibatnya, pemeriksaan lanjutan seperti kolonoskopi sering tertunda, padahal prosedur ini sangat penting untuk mendeteksi kanker sejak dini.
Cara menurunkan risiko kanker usus
Walaupun tidak semua kasus dapat dicegah, risiko kanker usus dapat ditekan dengan menerapkan gaya hidup sehat.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak konsumsi serat dari sayur, buah, dan biji-bijian
- Mengurangi daging merah dan makanan olahan
- Rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari
- Menjaga berat badan tetap ideal
- Menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol
- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala jika memiliki riwayat keluarga
Saat ini banyak organisasi kesehatan merekomendasikan skrining kanker kolorektal dimulai sejak usia 45 tahun, bahkan lebih awal bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi.
Jangan abaikan keluhan pencernaan
Kanker usus pada usia muda kini bukan lagi kasus yang jarang terjadi. Perubahan gaya hidup modern diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kejadian penyakit ini.
Karena itu, penting untuk lebih peka terhadap sinyal yang diberikan tubuh. Jika mengalami keluhan pencernaan yang tidak biasa atau berlangsung lama, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Deteksi dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan menyelamatkan nyawa.
