Notification

×

Iklan

Iklan

Hidup di Ujung Tanduk! Kisah ABK Indonesia Dihantui Rudal di Tengah Laut Timur Tengah

Maret 17, 2026 Last Updated 2026-03-17T15:52:40Z

Dentuman rudal dan pesawat tanpa awak kini menjadi “suara sehari-hari” bagi sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kawasan Timur Tengah. Situasi mencekam ini dirasakan langsung oleh para pekerja laut yang berada di sekitar perairan Dubai dan wilayah sekitarnya.


Zaik, salah satu ABK asal Indonesia, mengaku setiap hari melihat asap rudal melintas di atas kapal tempatnya bekerja. Serangan yang diduga berasal dari konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat itu bahkan kerap terjadi berulang dalam hitungan jam.


“Kadang berhenti sebentar, lalu lanjut lagi. Bahkan semalam ada rudal jatuh di kapal lain, tepat di depan kami,” ujarnya.


Terjebak di Laut, Sulit Pulang


Zaik bersama 10 WNI lainnya hingga kini masih tertahan di kapal asing tempat mereka bekerja. Meski kebutuhan makanan dan obat-obatan masih tersedia, rasa cemas terus meningkat seiring konflik yang belum mereda.


Kondisi semakin sulit karena gangguan komunikasi. Jaringan internet dan telepon mulai tidak stabil, membuat mereka kesulitan memberi kabar kepada keluarga di Indonesia.


Para ABK pun berharap pemerintah Indonesia segera melakukan evakuasi sebelum kondisi semakin memburuk, termasuk risiko kapal terkena serangan salah sasaran.


Ledakan Nyaris Tiap Hari


Kondisi serupa dialami Mega, ABK kapal Berkah Tuah yang kini bersandar di Pelabuhan Hamriyah, Uni Emirat Arab. Ia mengungkapkan suara ledakan kerap terdengar, terutama menjelang subuh atau saat sahur.


Kapal tempatnya bekerja bahkan sudah hampir dua bulan tidak beroperasi akibat situasi perang. Dampaknya, gaji para awak sempat tertunda sebelum akhirnya dibayarkan oleh pihak asuransi.


Beruntung, bantuan logistik seperti makanan dan minuman masih tersedia, termasuk akses layanan kesehatan jika ada awak yang sakit.


Ancaman Serius di Jalur Pelayaran


Sementara itu, Andrian Umar atau Rian yang bekerja sebagai juru mudi kapal di jalur Abu Dhabi hingga wilayah pelabuhan lainnya juga menghadapi risiko tinggi setiap hari.


Menurutnya, serangan rudal dan drone tidak hanya membahayakan secara fisik, tetapi juga mengganggu sistem navigasi kapal. Hal ini meningkatkan risiko kecelakaan laut karena kesalahan pembacaan posisi kapal.


“Kami jadi sangat khawatir, karena alat navigasi bisa error. Risiko tabrakan atau kecelakaan jadi lebih tinggi,” jelasnya.


Suplai dan Keselamatan Jadi Kekhawatiran


Selain ancaman serangan, para ABK juga khawatir terhadap kemungkinan terganggunya suplai makanan dan air bersih. Jika konflik terus berlanjut, kondisi ini bisa menjadi ancaman serius bagi keselamatan mereka.


Meski diliputi kecemasan, banyak dari mereka memilih menyembunyikan kondisi sebenarnya dari keluarga di Indonesia agar tidak menimbulkan kepanikan.


Korban Jiwa dan Upaya Evakuasi


Situasi konflik di kawasan ini sudah menelan korban, termasuk WNI. Kapal Musaffah 2 dilaporkan meledak dan tenggelam di wilayah Selat Hormuz pada awal Maret 2026.


Dari insiden tersebut, satu orang dinyatakan selamat, sementara tiga lainnya masih hilang.


Sementara itu, kapal milik Pertamina International Shipping yang berada di kawasan Teluk Persia dilaporkan masih menunggu situasi aman untuk keluar dari jalur konflik.


Harapan pada Pemerintah Indonesia


Hingga kini, para ABK Indonesia yang berada di wilayah konflik berharap adanya langkah cepat dari pemerintah untuk mengevakuasi mereka. Koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan, namun situasi di lapangan masih belum memungkinkan untuk pergerakan aman.


Di tengah ancaman rudal, gangguan navigasi, hingga keterbatasan komunikasi, para pekerja ini terus bertahan—berharap bisa segera kembali ke Tanah Air dengan selamat.