Notification

×

Iklan

Iklan

Konflik Timur Tengah Memanas, Penjualan Senjata Dunia Meledak! Negara Ini Paling Banyak Borong

Maret 07, 2026 Last Updated 2026-03-07T01:18:23Z


Memanasnya konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada situasi geopolitik global, tetapi juga memicu lonjakan permintaan senjata di kawasan tersebut. Ketegangan regional yang terus meningkat membuat banyak negara memperkuat kemampuan militernya, mulai dari sistem pertahanan udara hingga kendaraan tempur darat.


Sejumlah pelaku industri pertahanan Eropa melihat kondisi ini sebagai sinyal meningkatnya belanja militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.


Industri Pertahanan Prediksi Permintaan Senjata Naik


CEO perusahaan pertahanan Jerman Renk, Alexander Sagel, menilai konflik yang melibatkan Iran serta krisis yang berkembang di Timur Tengah dapat mendorong peningkatan kebutuhan sistem pertahanan di kawasan tersebut.


Menurutnya, eskalasi konflik biasanya diikuti oleh peningkatan pengeluaran militer oleh negara-negara yang merasa perlu memperkuat keamanan nasional.


Sagel menyebut kebutuhan tersebut dapat mencakup berbagai sektor, mulai dari sistem pertahanan udara, amunisi, hingga kekuatan kendaraan tempur darat.


Pernyataan ini menjadi sorotan karena industri pertahanan global saat ini tengah mengamati peluang peningkatan pesanan dari kawasan Timur Tengah.


Perusahaan Renk sendiri dikenal sebagai produsen teknologi penggerak untuk kendaraan militer, termasuk infantry fighting vehicle (IFV), dan menjadi pemasok bagi sejumlah perusahaan pertahanan besar di dunia.


Sagel juga mengungkapkan bahwa perusahaan mereka telah menerima pesanan awal untuk prototipe kendaraan tempur IFV baru dari salah satu negara Teluk. Proyek tersebut diperkirakan akan dikembangkan dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.


Timur Tengah Masih Jadi Pasar Senjata Terbesar


Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa Timur Tengah tetap menjadi salah satu pasar senjata terbesar di dunia.


Dalam laporan periode 2020–2024, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 27% dari total impor senjata global. Sementara itu, Afrika Utara mencatat kontribusi sebesar 2,2%.


Karena kedekatan geografis dan dinamika keamanan yang saling terkait, kedua kawasan tersebut sering digabungkan sebagai wilayah Middle East and North Africa (MENA).


Meski secara keseluruhan impor senjata ke Timur Tengah pada periode 2020–2024 tercatat turun 20% dibandingkan periode 2015–2019, laporan SIPRI menyebut kawasan ini tetap akan menjadi pasar utama karena masih banyak pesanan senjata yang belum dikirim.


Negara Teluk Dominasi Pembelian Senjata


Beberapa negara di kawasan Teluk masih menjadi pembeli senjata terbesar di dunia.


Empat negara dari kawasan MENA bahkan masuk dalam 10 importir senjata terbesar dunia pada periode 2020–2024, yaitu:


  • Qatar di peringkat ketiga
  • Arab Saudi di peringkat keempat
  • Mesir di peringkat kedelapan
  • Kuwait di posisi kesepuluh


Dari sisi pemasok, Amerika Serikat masih mendominasi pasar senjata Timur Tengah dengan pangsa sekitar 50% dari total impor kawasan tersebut.


Setelah AS, negara pemasok terbesar berikutnya adalah Italia (12%), Prancis (9,7%), dan Jerman (7,6%).


Sebaliknya, pangsa Rusia di kawasan ini mengalami penurunan tajam, dari 18% pada periode 2015–2019 menjadi hanya 4,1% pada 2020–2024. Sementara China hanya menyumbang sekitar 1,2% dari total impor.


Lonjakan Tajam di Kuwait dan Bahrain


Di antara negara Teluk, Arab Saudi masih menjadi salah satu pembeli terbesar, meskipun impornya turun 41% dibanding periode sebelumnya. Negara tersebut tetap menyumbang sekitar 23% dari total impor senjata MENA.


Mayoritas persenjataan Arab Saudi dipasok oleh Amerika Serikat dengan pangsa sekitar 74%, diikuti Spanyol (10%) dan Prancis (6,2%).


Sementara itu, dua negara Teluk lainnya justru mencatat lonjakan signifikan. Kuwait mengalami peningkatan impor senjata hingga 466%, sedangkan Bahrain melonjak hingga 898% dibandingkan periode sebelumnya.


Kuwait memperoleh sekitar 63% persenjataannya dari AS, diikuti Italia (29%) dan Prancis (7,1%). Sementara Bahrain hampir sepenuhnya bergantung pada AS dengan pangsa sekitar 97%.


Israel Masih Aktif, Iran Justru Minim Impor


Di luar negara Teluk, Israel juga menjadi salah satu importir penting di kawasan Timur Tengah. Negara tersebut tercatat sebagai importir senjata terbesar keenam di kawasan dan peringkat ke-15 dunia.


Sebagian besar senjata Israel dipasok oleh Amerika Serikat dengan pangsa 66%, sementara Jerman menyuplai sekitar 33%.


Israel juga diketahui sangat bergantung pada bantuan militer dari AS, terutama untuk kebutuhan seperti pesawat tempur, rudal, bom berpemandu, dan kendaraan lapis baja.


Sebaliknya, Iran justru memiliki volume impor senjata yang sangat kecil. Pangsa impor Iran hanya sekitar 0,2% dari total impor senjata MENA pada periode 2020–2024.


Dalam periode tersebut, Rusia tercatat sebagai satu-satunya pemasok senjata bagi Iran.


Timur Tengah Tetap Jadi Pasar Strategis Industri Senjata


Perbedaan besar antara negara-negara di kawasan menunjukkan dinamika pasar senjata yang unik. Negara Teluk dan Israel masih aktif meningkatkan kekuatan militernya, sementara Iran menghadapi keterbatasan akses terhadap pasar senjata internasional.


Dengan konflik yang masih berlangsung dan ketegangan regional yang belum mereda, Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi salah satu pasar paling strategis bagi industri pertahanan global dalam beberapa tahun ke depan.