Notification

×

Iklan

Iklan

Lebaran 2026 Berpotensi Beda Lagi? Besok Sidang Isbat Jadi Penentu 1 Syawal!

Maret 18, 2026 Last Updated 2026-03-18T16:14:27Z


Penentuan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan segera diputuskan melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang ini menjadi momen penting yang selalu dinantikan umat Muslim di Indonesia untuk memastikan kapan hari kemenangan dirayakan.


Sidang isbat merupakan agenda rutin pemerintah di penghujung Ramadan. Penetapan awal Syawal dilakukan dengan menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit). Tahun ini, sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag, mulai pukul 16.00 WIB.


Proses sidang tidak dilakukan secara sembarangan. Sejumlah pihak akan dilibatkan, mulai dari para ahli astronomi, perwakilan organisasi masyarakat Islam, hingga lembaga ilmiah seperti BMKG dan BRIN. Keterlibatan banyak pihak ini bertujuan memastikan keputusan yang diambil akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.


Adapun rangkaian sidang isbat meliputi seminar posisi hilal, verifikasi laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah, pelaksanaan sidang tertutup, hingga pengumuman resmi oleh Menteri Agama terkait penetapan 1 Syawal 1447 H.


Potensi Lebaran Berbeda Kembali Muncul


Seperti yang terjadi pada awal Ramadan tahun ini, perbedaan penetapan Idulfitri juga berpotensi terjadi. Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penentuan ini menggunakan metode hisab hakiki dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tanpa menunggu hasil rukyat.


Sementara itu, pemerintah melalui kalender resmi Kemenag memperkirakan Idulfitri akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun, keputusan final tetap menunggu hasil sidang isbat.


Prediksi dari BRIN dan BMKG


Prediksi serupa juga disampaikan oleh BRIN. Peneliti BRIN menyebutkan bahwa posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.


Kriteria yang digunakan mengacu pada standar MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Berdasarkan perhitungan, posisi hilal masih berada di bawah ambang batas tersebut, sehingga kemungkinan besar Idulfitri jatuh pada 21 Maret 2026.


Hal senada juga diungkapkan oleh BMKG. Lembaga ini memprediksi ketinggian hilal berada di kisaran 0,91 hingga 3,13 derajat, dengan elongasi antara 4,54 hingga 6,1 derajat. Angka ini dinilai belum sepenuhnya memenuhi syarat visibilitas hilal.


BMKG juga mengingatkan adanya potensi kesalahan pengamatan akibat objek langit lain seperti planet atau bintang terang yang bisa disalahartikan sebagai hilal saat proses rukyat berlangsung.


Sikap NU dan Keputusan Pemerintah


Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama umumnya mengikuti keputusan pemerintah dalam penentuan awal Syawal. Metode yang digunakan adalah rukyat hilal yang didukung dengan hisab sebagai alat bantu.


Pemerintah sendiri baru akan menetapkan secara resmi tanggal Lebaran setelah sidang isbat selesai digelar. Jika hilal tidak terlihat sesuai kriteria, maka besar kemungkinan Idulfitri jatuh pada 21 Maret 2026. Namun jika hilal berhasil teramati, maka Lebaran bisa dirayakan lebih awal, yaitu pada 20 Maret 2026.


Dengan berbagai perbedaan metode dan hasil perhitungan, peluang terjadinya perbedaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia tahun ini kembali terbuka. Masyarakat pun diimbau menunggu pengumuman resmi pemerintah untuk kepastian tanggal Lebaran.