Notification

×

Iklan

Iklan

Tinggalkan Batu Bara? TOBA Tancap Gas Bangun PLTS Batam dan Olah 1 Juta Ton Sampah Jadi Bisnis

Maret 09, 2026 Last Updated 2026-03-09T13:17:24Z

 

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) terus mempercepat transformasi bisnisnya menuju sektor energi baru terbarukan (EBT). Perusahaan kini agresif mengembangkan proyek energi bersih sekaligus memperkuat bisnis pengelolaan limbah yang mulai menjadi sumber pendapatan utama selain batu bara.


Senior Vice President Corporate Strategy & Business Development TOBA, Nafi Sentausa, mengatakan perusahaan saat ini tengah mengembangkan sejumlah proyek energi hijau di berbagai wilayah Indonesia.


Salah satu proyek yang sudah berjalan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) Sumberjaya di Lampung dengan kapasitas 6 megawatt (MW). Pembangkit tersebut telah beroperasi secara komersial sejak Januari 2025 dan menjadi bagian dari langkah awal transformasi energi perusahaan.


Tidak berhenti di situ, TOBA juga tengah mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Batam. Proyek floating solar ini memiliki kapasitas hingga 46 megawatt peak (MWp) dan ditargetkan mulai memasok listrik pada kuartal keempat 2026.


Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara.


Kelola 1 Juta Ton Sampah


Selain sektor energi bersih, TOBA juga memperluas bisnis di bidang pengelolaan limbah terintegrasi. Melalui sejumlah akuisisi yang dilakukan pada 2023 hingga awal 2025, perusahaan kini mengelola sekitar 1 juta ton sampah setiap tahun di Indonesia dan Singapura.


Menurut Nafi, tingkat pemanfaatan fasilitas pengolahan limbah tersebut juga tergolong tinggi dengan tingkat utilisasi operasional di atas 80 persen.


“Sekitar 1 juta ton sampah kita kelola, baik di Singapura maupun Indonesia. Operasionalnya juga cukup sehat dengan utilisasi di atas 80 persen,” jelasnya dalam diskusi media di Jakarta, Senin (9/3/2026).


Jenis limbah yang dikelola TOBA pun cukup beragam, mulai dari limbah domestik, komersial, limbah medis, limbah B3, hingga proses pemilahan material melalui fasilitas pemulihan atau sorting.


Di Singapura, melalui anak usaha Kora Environment, sampah yang dikumpulkan tidak hanya dibuang. Limbah tersebut diolah menggunakan teknologi Energy from Waste yang mampu mengubah sampah menjadi energi panas atau uap.


Energi panas tersebut kemudian dijual ke kawasan industri melalui kontrak jangka panjang, sehingga menghasilkan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.


Lepas PLTU, Fokus Energi Hijau


Sejalan dengan transformasi bisnis, TOBA juga telah melepas dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada Maret dan Mei 2025. Divestasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk keluar secara bertahap dari bisnis berbasis batu bara.


Saat ini, perusahaan memfokuskan pengembangan bisnis pada tiga pilar utama, yakni energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan ekosistem kendaraan listrik (EV).


SVP Corporate Finance & Investor Relations TOBA, Mirza Hippy, mengatakan periode 2025 hingga 2027 merupakan fase penting bagi perusahaan dalam melakukan reposisi strategi bisnis.


Divestasi PLTU dan penurunan harga batu bara memang memberi tekanan terhadap laporan keuangan perusahaan pada 2025. Tercatat kerugian non-cash akibat pelepasan aset mencapai sekitar US$96–97 juta.


Namun secara operasional, kinerja perusahaan masih tergolong solid dengan EBITDA adjusted mencapai US$47,1 juta.


Mirza menilai langkah tersebut merupakan strategi jangka pendek untuk menciptakan nilai bisnis yang lebih kuat dalam jangka panjang.


“Kontribusi bisnis pengelolaan limbah terhadap pendapatan sudah sekitar 41 persen. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, sektor ini diharapkan bisa menggantikan kontribusi batu bara terhadap revenue maupun EBITDA perusahaan,” ujarnya.


Dengan strategi ini, TOBA menargetkan dapat menjadi salah satu pemain penting di sektor energi bersih dan ekonomi sirkular di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.