Notification

×

Iklan

Iklan

Antre Emas Antam Bikin Nyerah, Warga Kini Rela Bayar Jastip Rp100 Ribu per Gram

April 21, 2026 Last Updated 2026-04-21T12:03:19Z


Investasi emas kembali menjadi pilihan favorit masyarakat di tahun 2026. Tingginya minat terhadap logam mulia, khususnya emas Antam, membuat antrean panjang di butik resmi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) semakin sulit dihindari.


Fenomena ini bahkan melahirkan kebiasaan baru di tengah masyarakat, yakni menggunakan jasa titip atau jastip emas. Tak sedikit warga yang rela membayar tambahan hingga Rp100.000 per gram hanya agar tidak perlu antre berjam-jam sejak subuh.


Bagi sebagian orang, jastip bukan lagi sekadar alternatif, melainkan solusi utama untuk mendapatkan emas di tengah keterbatasan waktu dan stok yang sering cepat habis.


Warga Pilih Jastip Demi Hemat Waktu


Mutia (32), seorang karyawan swasta di Jakarta Timur, menjadi salah satu pembeli yang rutin menggunakan jasa titip untuk membeli emas Antam.


Menurutnya, kesibukan kerja membuat dirinya tidak memungkinkan untuk datang pagi-pagi ke butik resmi hanya demi mengantre.


Ia mengaku pernah mencoba membeli langsung, tetapi antrean yang panjang sering kali tidak sebanding dengan hasil. Bahkan, gram kecil seperti 1 gram dan 2 gram yang paling banyak dicari biasanya sudah habis sebelum gilirannya tiba.


Karena itu, Mutia lebih memilih menitip pembelian kepada rekan kantornya yang dipercaya. Meski harus membayar lebih mahal, ia merasa biaya tambahan tersebut sepadan dengan waktu yang dihemat.


Biasanya, Mutia membeli emas 1 gram hingga 2 gram sebagai bentuk investasi bertahap. Jika kondisi keuangan sedang baik, ia sesekali membeli ukuran 5 gram.


Baginya, selisih harga sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 masih dianggap wajar karena merupakan bentuk jasa antre.


Ibu Rumah Tangga Juga Andalkan Jastip 


Hal serupa dirasakan Ayu (28), seorang ibu rumah tangga asal Bekasi. Ia mulai membeli emas melalui jastip karena ingin menabung, tetapi tidak memahami prosedur pembelian langsung di butik resmi.


Selain itu, mengurus anak membuatnya tidak memungkinkan untuk menghabiskan waktu berjam-jam di antrean.


Ayu memilih menggunakan jasa titip dari tetangganya sendiri. Kedekatan tersebut membuatnya merasa lebih aman dibanding harus bertransaksi secara online dengan orang yang tidak dikenal.


Ia biasanya membeli emas 1 gram sebagai tabungan rutin. Menurutnya, emas lebih stabil dibanding menyimpan uang tunai yang mudah terpakai.


Walaupun harga melalui jastip sedikit lebih mahal, ia menilai selisih tersebut masih masuk akal karena dirinya tidak perlu keluar rumah dan mengantre panjang.


Pernah Gagal Dapat Emas, Akhirnya Beralih ke Jastip


Tisna (37), warga Jakarta Timur, juga memiliki pengalaman serupa. Ia pernah datang langsung ke butik Antam, tetapi gagal mendapatkan emas karena stok gram kecil sudah habis saat gilirannya tiba.


Sejak saat itu, ia lebih memilih menggunakan jasa titip dari grup WhatsApp warga sekitar.

Menurutnya, cara ini jauh lebih efektif dibanding harus menghabiskan waktu tanpa kepastian.


Tisna biasanya membeli emas ukuran 2 gram hingga 5 gram, tergantung kondisi keuangan. Namun, ia lebih sering memilih gram kecil karena lebih mudah diperoleh.


Meski menggunakan jastip, ia tetap berhati-hati dan lebih memilih sistem COD agar bisa memeriksa langsung barang, sertifikat, dan nota pembelian.


Pelaku UMKM Pilih Jastip agar Bisnis Tetap Jalan


Bagi Nadya (30), seorang pelaku UMKM di Jakarta Barat, antre seharian di butik emas bukanlah pilihan yang realistis.


Ia mengaku tidak bisa meninggalkan usahanya hanya untuk membeli emas karena hal itu bisa mengganggu operasional bisnis.


Karena itu, Nadya memilih menggunakan jasa titip dari teman lama yang sudah dipercaya. Ia membeli emas sebagai tabungan sekaligus dana darurat.


Namun, Nadya juga pernah hampir tertipu oleh penawaran jastip murah dengan harga yang terlalu menggiurkan.


Saat diminta melakukan transfer penuh tanpa bukti jelas, ia langsung membatalkan transaksi.


Kini, ia selalu memastikan adanya bukti pembelian resmi dan lebih memilih transaksi COD untuk menghindari risiko penipuan.


Jastiper Emas Raup Peluang dari Antrean Panjang


Di sisi lain, fenomena ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi para pelaku jastip.


Shila (27), salah satu jastiper yang rutin datang ke Butik Antam TB Simatupang, Jakarta Selatan, mengaku awalnya hanya membantu teman kantor membeli emas.


Namun karena permintaan terus meningkat, aktivitas tersebut akhirnya menjadi usaha sampingan yang cukup serius.


Menurutnya, permintaan biasanya melonjak saat harga emas sedang turun atau stabil. Banyak orang memilih membeli gram kecil sebagai investasi aman.


Meski terlihat menguntungkan, Shila mengatakan bisnis ini tidak semudah yang dibayangkan. Keterbatasan stok menjadi tantangan utama.


Sering kali ia harus datang selama tiga hari berturut-turut hanya untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Ia menerapkan sistem pre-order dengan uang muka agar tidak terjadi pembatalan sepihak dari pembeli.


Biaya jasa yang dipatok berkisar antara Rp50.000 hingga Rp80.000, dan bisa naik sampai Rp100.000 saat stok sangat terbatas.


Dalam kondisi ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan.


Harga Bisa Lebih Mahal Saat Stok Langka


Pelaku jastip lain, Kiki (25), juga merasakan hal serupa. Ia mulai menjalankan usaha ini sejak 2025 setelah melihat tingginya permintaan masyarakat terhadap emas Antam resmi.


Ia biasanya membuka sistem slot agar pesanan tetap terkendali. Gram kecil seperti 1 gram dan 2 gram menjadi ukuran yang paling banyak dicari karena lebih terjangkau.


Biaya jasa yang dipatok berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000, bahkan bisa mencapai Rp150.000 ketika stok sangat sulit didapat.


Meski demikian, Kiki menegaskan bahwa jastip bukan bisnis cepat kaya. Penghasilan sangat bergantung pada ketersediaan stok di butik.


Jika stok lancar, penghasilannya bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan. Namun saat stok sulit, pendapatan bisa turun drastis.


Pengamat: Jastip Emas Bisa Picu Distorsi Harga


Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai fenomena jastip emas ini sebagai tanda adanya ketidakseimbangan antara lonjakan permintaan dan distribusi ritel.


Menurutnya, praktik jastip pada dasarnya adalah respons pasar yang wajar terhadap tingginya minat masyarakat.


Namun, ketika pembelian terkonsentrasi lalu dijual kembali dengan markup tinggi, kondisi tersebut bisa memicu distorsi harga.


Harga emas akhirnya tidak lagi sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental, tetapi juga biaya akses untuk mendapatkannya.


Selain itu, praktik ini berpotensi menciptakan kelangkaan semu karena stok cepat terserap oleh para jastiper, sehingga pasar terlihat kosong dan memicu kepanikan pembelian.


Dari sisi investasi, pembelian melalui jastip juga dinilai kurang efisien karena margin emas ritel yang sebenarnya relatif kecil bisa tergerus oleh biaya tambahan.


Karena itu, masyarakat tetap disarankan membeli melalui kanal resmi dan menghindari premium berlebihan agar investasi emas tetap optimal.


Fenomena jastip emas Antam memang menunjukkan bagaimana kebutuhan investasi bertemu dengan realitas antrean panjang. Namun, di balik kemudahan itu, konsumen tetap perlu cermat agar tidak justru merugi karena biaya tambahan yang tidak perlu. (Rhz2797)