Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Korban KDRT, Kini Rela Nyebur ke Sungai Kotor Demi Anak Jadi Masinis

April 21, 2026 Last Updated 2026-04-21T12:00:51Z

Di balik aliran sungai yang hitam, penuh sampah, dan berbau menyengat, ada sosok perempuan tangguh yang setiap hari berjuang tanpa banyak keluh. Ia adalah Iin Kurniasih (43), petugas perempuan pertama di Unit Pengelola Sampah (UPS) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat.


Dengan seragam oranye hijau dan alat serok sederhana rakitan sendiri, Iin rela menenggelamkan setengah tubuhnya ke sungai demi membersihkan tumpukan sampah plastik dan dedaunan yang menyumbat aliran air.


Semua lelah yang ia jalani bukan tanpa alasan. Ada satu mimpi besar yang terus ia perjuangkan: membantu anak keduanya, Reza Setiawan (15), meraih cita-citanya menjadi seorang masinis kereta api.


Perjuangan Seorang Ibu di Tengah Sungai Penuh Sampah


Setiap hari, Iin bekerja di aliran Kali PHB Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat. Ia berdiri di atas rangkaian kubus apung sambil menarik sampah yang tersangkut di sekatan sungai.


Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat berat dan kotor. Namun bagi Iin, pekerjaan adalah bentuk perjuangan untuk menghidupi anak-anaknya.


Ia percaya bahwa perempuan harus berani mengambil peran, tanpa harus dibatasi oleh stigma pekerjaan laki-laki atau perempuan.


Menurutnya, selama pekerjaan itu halal dan bisa menghidupi keluarga, tidak ada alasan untuk merasa malu.


Semangat itulah yang membuatnya terus bertahan selama tujuh tahun bekerja membersihkan sungai.


Anak Berkebutuhan Khusus Jadi Sumber Semangat


Perjuangan Iin semakin besar karena anak keduanya, Reza, memiliki gangguan perkembangan otak dan keterlambatan intelektual.


Kini, Reza duduk di bangku kelas enam Sekolah Luar Biasa (SLB) di Cengkareng, Jakarta Barat.


Kondisi tersebut bermula dari masa kecilnya yang pernah mengalami benturan di kepala. Selain itu, Iin juga mengaku masa kehamilannya dulu penuh tekanan akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya.


Karena kondisi ekonomi yang sulit dan tekanan hidup saat itu, ia tidak sempat memeriksakan kandungan ke dokter. Bahkan proses persalinan dilakukan tanpa rumah sakit, hanya dibantu dukun beranak.


Meski begitu, Iin tidak pernah menyerah. Baginya, Reza adalah kebanggaan terbesar dalam hidupnya.


Cita-Cita Jadi Masinis yang Terus Dijaga


Di tengah keterbatasannya, Reza tumbuh menjadi anak yang penuh semangat. Ia mulai lancar membaca, menulis, bahkan beberapa kali memenangkan lomba.


Yang paling menarik, Reza sangat mencintai dunia perkeretaapian.


Dinding kamarnya dipenuhi gambar kereta. Isi ponselnya pun hampir semuanya tentang kereta api. Saat bepergian, ia selalu memilih naik kereta dibanding moda transportasi lain.


Bahkan, ia pernah meminta dibelikan seragam masinis lengkap dari kepala hingga sepatu.

Setiap hari, Reza terus bertanya kapan dirinya bisa sekolah untuk menjadi masinis.

Pertanyaan itu menjadi penguat bagi Iin untuk terus bekerja lebih keras.


Meski banyak orang meragukan kemampuan anaknya karena kondisi yang dimiliki, Iin tetap yakin bahwa setiap anak punya jalan takdir masing-masing.


Ia percaya, jika Allah sudah menggariskan jalan itu, maka usaha seorang ibu tidak akan sia-sia.


Pernah Digaji Rp800 Ribu Sebulan


Sebelum bekerja di UPS Badan Air, kehidupan Iin jauh lebih berat.

Setelah bercerai dari suaminya, ia bekerja sebagai buruh cuci piring di sebuah restoran di Kalideres, Jakarta Barat.


Jam kerjanya sangat panjang, dari pagi hingga malam selama hampir 14 jam setiap hari. Namun, gaji yang diterima hanya Rp800.000 per bulan.


Selama satu setengah tahun, ia menjalani hidup dengan penghasilan minim sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya.


Ia bahkan harus rela jarang bertemu anak karena sibuk bekerja demi memastikan mereka tetap bisa makan.

Masa itu menjadi salah satu fase paling berat dalam hidupnya.


Kehidupan Berubah Setelah Jadi Petugas PJLP


Melihat perjuangan kakaknya, sang adik laki-laki yang lebih dulu bekerja di UPS Badan Air merasa iba dan mengajaknya melamar sebagai petugas PJLP.


Adiknya berharap Iin bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan tidak lagi pulang malam.

Namun, tak lama setelah itu, sang adik meninggal dunia akibat kecelakaan.

Iin kemudian dipercaya untuk menggantikan posisi adiknya.

Keputusan itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya.


Sebagai petugas PJLP resmi, penghasilannya meningkat signifikan karena menerima upah sesuai standar UMR Jakarta.


Meski pekerjaannya berat, Iin merasa jauh lebih bersyukur karena kini bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya.


Perempuan Tangguh yang Tak Takut Lumpur


Selama tujuh tahun bekerja di lapangan, Iin mengaku sudah terbiasa dengan segala tantangan.

Ia pernah tercebur dari perahu pembersih waduk hingga tiga kali. Ponselnya rusak, tubuhnya penuh lumpur, bahkan pernah masuk ke gorong-gorong dengan air setinggi leher.

Di Kali Maja, ia pernah berjibaku dengan lumpur setinggi dada.

Namun, semua itu justru menjadi cerita perjuangan yang membuatnya bangga.

Baginya, perempuan juga bisa kuat, tahan banting, dan bekerja sekeras laki-laki.

Ia bahkan merasa sedih ketika tidak diajak kerja bakti massal hanya karena dianggap perempuan dan dinilai terlalu berat untuk turun ke lapangan.

Padahal, menurutnya, justru di situlah letak semangat perempuan tangguh.


Pesan Iin untuk Para Single Mom


Di momen Hari Kartini, kisah Iin menjadi gambaran nyata bahwa emansipasi bukan sekadar seremoni, melainkan keberanian menghadapi hidup.


Ia membuktikan bahwa perempuan bisa bangkit dari keterpurukan, termasuk dari pengalaman pahit seperti KDRT, lalu berdiri kembali demi masa depan anak-anaknya.


Dari atas sungai yang penuh sampah, Iin mengirim pesan sederhana namun kuat untuk para perempuan, terutama ibu tunggal.


Jangan pernah menyerah untuk bekerja apa saja selama itu halal. Jangan takut, jangan malu, dan jangan merasa lemah hanya karena menjadi perempuan.


Menurutnya, perempuan tangguh bukan yang hidupnya mudah, tetapi yang tetap berdiri meski berkali-kali dihantam keadaan.


Dan bagi Iin, semua perjuangan itu bermuara pada satu tujuan: melihat anaknya berdiri bangga sebagai seorang masinis, mengangkat derajat keluarga, dan membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari sungai yang penuh lumpur. (Rhz2797)