Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menguras sebagian besar persediaan rudal penting selama konflik berkepanjangan melawan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar bahwa Washington dapat mengalami kekurangan amunisi strategis jika terlibat dalam perang lain dalam waktu dekat.
Laporan tersebut diungkap oleh media internasional CNN yang mengutip hasil analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Dalam laporan itu disebutkan bahwa penggunaan persenjataan AS selama tujuh minggu perang telah mengurangi stok rudal utama secara signifikan.
CSIS menyebut sekitar 45 persen pasokan Rudal Serangan Presisi telah digunakan dalam operasi militer melawan Iran. Selain itu, setidaknya separuh dari persediaan rudal pencegat THAAD juga telah habis dipakai.
Tak hanya itu, hampir 50 persen stok rudal pertahanan udara Patriot dilaporkan ikut terkuras. Angka ini dinilai sejalan dengan estimasi internal Pentagon yang selama ini tidak dipublikasikan secara terbuka.
Selain sistem pertahanan utama tersebut, militer AS juga disebut telah memakai sekitar 30 persen rudal Tomahawk. Lalu lebih dari 20 persen rudal jarak jauh jenis Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM), serta sekitar 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.
Meski Pentagon telah menandatangani kontrak baru untuk meningkatkan produksi rudal pada awal tahun ini, proses pemulihan stok tidak bisa dilakukan secara instan. CSIS memperkirakan pengisian ulang persediaan rudal tersebut membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas produksi.
Dalam jangka pendek, Amerika Serikat dinilai masih memiliki cukup amunisi untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran jika gencatan senjata yang saat ini berlangsung gagal dipertahankan.
Namun, masalah besar muncul jika AS harus menghadapi konflik baru dengan negara yang memiliki kekuatan militer seimbang seperti China. Menurut CSIS, stok senjata utama saat ini belum cukup untuk menghadapi perang besar di kawasan Indo-Pasifik.
Salah satu penyusun laporan CSIS, Mark Cancian, yang juga pensiunan Kolonel Korps Marinir AS, menegaskan bahwa penggunaan amunisi dalam jumlah besar telah menciptakan kerentanan baru bagi pertahanan Amerika, khususnya di wilayah Pasifik Barat.
Ia menyebut pengisian ulang stok membutuhkan waktu antara satu hingga empat tahun, dan bahkan lebih lama untuk mencapai kapasitas ideal yang dibutuhkan dalam skenario perang besar.
“Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik Barat,” ujarnya.
Sementara itu, Pentagon membantah kekhawatiran bahwa AS berada dalam posisi lemah. Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS masih memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi kapan pun sesuai keputusan Presiden Donald Trump.
Menurutnya, berbagai operasi militer yang telah dilakukan tetap berjalan sukses tanpa mengorbankan kesiapan pertahanan nasional Amerika Serikat.
Meski demikian, laporan ini menjadi sorotan serius di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, terutama jika konflik di Timur Tengah meluas dan tekanan terhadap kekuatan militer AS terus bertambah.
