Di sejumlah sudut Jakarta, praktik pedagang obat kaki lima yang membeli obat dari jalur resmi lalu menjualnya kembali secara eceran di trotoar masih terus berlangsung. Fenomena ini menjadi potret nyata antara kebutuhan ekonomi, akses kesehatan yang belum merata, dan celah regulasi yang masih menjadi perdebatan.
Di balik etalase sederhana yang dipenuhi obat flu, balsem, pil pereda nyeri, hingga obat masuk angin, para pedagang tetap bertahan meski pembeli tidak seramai dulu. Salah satunya adalah Rasid (63), pedagang obat kaki lima yang sudah puluhan tahun berjualan di kawasan Jalan Kramat Kwitang, Jakarta Pusat.
Menurut Rasid, obat-obatan yang ia jual berasal dari berbagai sumber, mulai dari apotek, toko grosir, hingga pemasok yang datang langsung ke lapaknya. Sebagian dibeli dalam kemasan besar, lalu dijual kembali secara eceran agar lebih terjangkau bagi pembeli.
“Obatnya saya ambil dari berbagai tempat, ada dari apotek, ada dari toko grosir, kadang juga dari pemasok yang datang ke sini,” ujarnya.
Jual Eceran Jadi Daya Tarik
Salah satu alasan pembeli masih datang ke lapak seperti milik Rasid adalah fleksibilitas pembelian. Tidak semua orang ingin membeli obat dalam jumlah banyak atau satu strip penuh seperti di apotek resmi.
Dengan sistem eceran, masyarakat bisa membeli sesuai kebutuhan dan kemampuan ekonomi mereka. Namun, kondisi pasar kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
“Sekarang kadang seminggu cuma satu sampai empat orang saja yang datang,” kata Rasid.
Meski sepi, ia tetap bertahan karena pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang dimiliki. Baginya, berjualan obat kaki lima bukan sekadar usaha, tetapi cara bertahan hidup.
Pedagang Sadar Soal Izin dan Risiko
Rasid mengaku dirinya dan pedagang lain memahami bahwa penjualan obat seharusnya memiliki izin yang jelas. Karena itu, mereka berusaha membatasi hanya menjual obat-obatan umum dan tidak berani menjual obat yang memerlukan resep khusus.
“Iya kita sadar, kita juga enggak berani macam-macam. Karena obat yang dijual yang umum saja. Kalau ada yang nanya detail kita saranin ke dokter,” ujarnya.
Namun, di balik praktik tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan adanya risiko besar jika masyarakat terlalu bergantung pada jalur distribusi informal.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Epidemiolog dan ahli kesehatan masyarakat, dr. Dicky Budiman, menilai fenomena pedagang obat kaki lima merupakan persoalan klasik yang berada di persimpangan antara kebutuhan akses layanan kesehatan dan potensi bahaya medis.
Menurutnya, penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga medis bisa menyebabkan kesalahan diagnosis. Penyakit serius seperti tuberkulosis hingga kanker bisa tersamarkan karena gejalanya hanya ditekan sementara oleh obat bebas.
Selain itu, penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang tepat juga dapat mempercepat resistansi antimikroba, yang saat ini menjadi ancaman kesehatan global.
Risiko lain adalah kesalahan dosis, baik overdosis maupun underdosis. Bahkan obat umum seperti parasetamol pun tetap berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.
Tak hanya itu, distribusi informal juga membuka peluang peredaran obat palsu atau produk dengan kandungan yang tidak sesuai standar.
Masih Jadi Pilihan Sebagian Warga
Meski memiliki risiko, sebagian masyarakat masih memilih membeli obat di pedagang kaki lima karena dinilai lebih praktis dan murah.
Rian (38), seorang pekerja, mengaku sesekali membeli obat di lapak seperti milik Rasid untuk keluhan ringan seperti masuk angin atau pegal-pegal.
“Biasanya kalau sakit ringan saja. Di sini bisa beli sesuai kebutuhan, enggak harus satu strip,” katanya.
Namun, ia menegaskan tetap memilih dokter jika mengalami sakit yang lebih serius. Menurutnya, pembelian di lapak kaki lima hanya untuk kebutuhan sederhana.
Selain faktor praktis, ada juga rasa empati terhadap para pedagang lanjut usia yang tetap berjualan di tengah kondisi yang semakin sulit.
Sudah Jadi Bagian dari Wajah Lama Kawasan
Bagi warga sekitar Kramat, keberadaan pedagang obat kaki lima sudah menjadi pemandangan lama yang melekat dengan kawasan tersebut.
Jaya (55), pedagang air kemasan, mengatakan para penjual obat itu sudah ada bahkan sebelum dirinya mulai berjualan.
Menurutnya, dulu lapak obat kaki lima sangat ramai pembeli karena menjadi solusi cepat bagi warga yang membutuhkan obat tanpa harus ke apotek.
Kini, peran itu mulai berkurang karena apotek semakin banyak dan masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi kesehatan.
Satpol PP Lakukan Penertiban dan Edukasi
Pemerintah daerah melalui Satpol PP Jakarta Pusat terus melakukan penataan di kawasan tersebut, termasuk penertiban pedagang obat kaki lima yang berjualan di trotoar.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, mengatakan pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga melalui edukasi kepada pedagang dan masyarakat.
Salah satu fokusnya adalah memberikan pemahaman mengenai bahaya konsumsi obat tanpa resep, termasuk risiko penggunaan obat tertentu seperti tramadol dan peredaran obat palsu.
Selain itu, pedagang juga diimbau agar tidak berjualan hingga memakan badan jalan demi menjaga ketertiban umum.
Fenomena pedagang obat kaki lima ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak hanya soal layanan medis, tetapi juga soal akses, ekonomi, dan kebutuhan hidup sehari-hari yang belum sepenuhnya terjawab oleh sistem formal. (Rhz2797)
