Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Cuma Kebaya! Ini Makna Perjuangan Kartini yang Masih Relevan untuk Muslimah Masa Kini

April 21, 2026 Last Updated 2026-04-21T10:59:14Z


Setiap bulan April, nama Raden Ajeng Kartini kembali ramai diperbincangkan. Sosoknya identik dengan kebaya, sanggul, hingga berbagai seremoni peringatan Hari Kartini. Namun, di balik simbol-simbol tersebut, Kartini sejatinya adalah representasi kegelisahan intelektual seorang perempuan yang ingin keluar dari keterbatasan menuju pencerahan.


Kartini bukan hanya tokoh sejarah, tetapi juga simbol perjuangan perempuan untuk memperoleh hak belajar, berpikir, dan berkembang. Gagasan besarnya yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci utama kemajuan perempuan dan bangsa.


Menariknya, pemikiran Kartini ini sangat selaras dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan ilmu sebagai jalan kemuliaan manusia.


Kartini dan Semangat Menuntut Ilmu dalam Islam


Kartini percaya bahwa perempuan harus memiliki ilmu agar mampu membentuk generasi yang berkualitas. Pendidikan bukan sekadar soal gelar, tetapi tentang kesadaran, kemampuan berpikir, dan kontribusi bagi lingkungan sekitar.


Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam yang sangat memuliakan ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”


Ayat ini menjadi bukti bahwa keimanan dan ilmu tidak dapat dipisahkan. Orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.


Kartini, meski hidup dalam banyak keterbatasan, telah menangkap pesan besar ini jauh sebelum akses pendidikan terbuka luas bagi perempuan.


Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menuntut ilmu melalui hadis riwayat Ibnu Majah:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”


Kewajiban ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Artinya, Muslimah memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk terus belajar sepanjang hayat.


Emansipasi Kartini dan Nilai Tauhid dalam Islam


Konsep emansipasi yang diperjuangkan Kartini sering kali disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Padahal, esensi perjuangannya bukanlah menolak nilai agama, melainkan melawan kebodohan dan ketertinggalan.


Dalam perspektif Islam, kebebasan sejati adalah ketika manusia terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah. Islam datang untuk memuliakan manusia, termasuk perempuan, dengan memberikan hak-hak yang adil dan proporsional.


Kartini memperjuangkan kesempatan berpikir, belajar, dan berkembang. Hal ini justru sejalan dengan semangat Islam yang mengangkat derajat perempuan, bukan merendahkannya.


Karena itu, perjuangan Kartini bukan bentuk perlawanan terhadap agama, melainkan selaras dengan nilai tauhid yang mengajarkan kemerdekaan jiwa dan akal.


Teladan Muslimah Hebat dalam Sejarah Islam


Apa yang diperjuangkan Kartini sebenarnya telah memiliki akar kuat dalam sejarah Islam. Sejak masa awal Islam, perempuan telah memainkan peran besar dalam peradaban.


Khadijah binti Khuwailid dikenal sebagai pebisnis sukses yang mendukung perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Sementara Aisyah binti Abu Bakar merupakan ulama besar yang menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat.


Islam tidak pernah menempatkan perempuan sebagai sosok kelas dua. Allah SWT menegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”


Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukan gender, melainkan iman dan amal saleh.

Muslimah di Era Digital dan Tantangan Baru


Jika Kartini hidup di masa sulitnya akses pendidikan, Muslimah masa kini justru hidup dalam kelimpahan informasi. Internet, media sosial, dan teknologi membuka banyak peluang belajar tanpa batas.


Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan baru seperti banjir informasi, krisis identitas, hoaks, hingga degradasi moral.


Semangat Kartini hari ini tidak hanya soal membuka akses pendidikan, tetapi juga membangun literasi digital. Muslimah perlu memiliki kemampuan menyaring informasi, menjaga akhlak, dan menggunakan teknologi untuk kebaikan.


Menurut pemikiran Quraish Shihab dalam bukunya Perempuan, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai moral, terutama melalui keluarga dan lingkungan sosial.

Artinya, Muslimah modern bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nilai dalam era digital.


Muslimah sebagai Pilar Perubahan Sosial


Kartini memahami bahwa kemajuan bangsa dimulai dari perempuan yang berilmu. Pemikiran ini tetap relevan hingga sekarang.


Muslimah masa kini memiliki ruang yang lebih luas untuk berkontribusi, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, maupun dakwah. Namun, semua itu tetap berpijak pada satu nilai utama: menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.


Perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil dalam diri sendiri. Ketika perempuan sadar akan perannya, maka dampaknya akan meluas pada keluarga, masyarakat, hingga bangsa.

Kartini adalah contoh nyata bahwa satu pemikiran yang kuat dapat melahirkan perubahan besar.


Meneladani Kartini dengan Ilmu dan Akhlak


Meneladani Kartini bukan hanya soal mengenakan kebaya saat peringatan Hari Kartini. Lebih dari itu, semangatnya harus hidup dalam keseharian.


Kartini mengajarkan pentingnya ilmu, keberanian berpikir, serta integritas dalam bersikap. Dalam Islam, ketiganya menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban yang sehat.


Perempuan yang berilmu akan melahirkan generasi yang cerdas. Perempuan yang berakhlak akan menjaga nilai dalam masyarakat. Dan perempuan yang teguh akan menjadi cahaya perubahan.


Pada akhirnya, perjuangan Kartini dan ajaran Islam bertemu dalam satu tujuan yang sama, yaitu membangun manusia yang utuh—cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan bermanfaat bagi sesama.


Dari sanalah, “terang” itu bukan hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi jalan hidup bagi Muslimah masa kini. (Rhz2797)