Notification

×

Iklan

Iklan

Gugurnya Praka Rico di Lebanon, Total 4 Prajurit TNI Jadi Korban Serangan Saat Misi Perdamaian PBB

April 25, 2026 Last Updated 2026-04-24T23:43:44Z


Empat prajurit TNI tercatat gugur saat menjalankan tugas sebagai Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kabar terbaru datang dari meninggalnya Praka Rico Pramudia (31), yang sebelumnya mengalami luka berat akibat serangan di Lebanon Selatan.


Praka Rico mengembuskan napas terakhir setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat luka serius yang dideritanya usai ledakan proyektil menghantam pangkalan tempatnya bertugas di wilayah Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.


Melalui akun resmi X @UNIFIL_, pihak UNIFIL menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya prajurit TNI tersebut. Mereka juga menyampaikan simpati kepada keluarga, rekan sesama prajurit, TNI, serta pemerintah dan rakyat Indonesia.


Dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut Rico mengalami luka parah akibat ledakan proyektil yang menghantam markas pasukan penjaga perdamaian. Saat itu, situasi keamanan di Lebanon Selatan memang tengah memanas akibat meningkatnya konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.


Setelah mengalami luka berat, Praka Rico segera dievakuasi menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Namun, meski berbagai upaya medis telah dilakukan, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.


Dalam insiden yang sama, Praka Farizal Rhomadhon dinyatakan gugur di lokasi kejadian. Sementara dua prajurit lainnya, yakni Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka ringan dan telah mendapat perawatan di Hospital Level I UNIFIL.


Tak hanya itu, sehari setelah kejadian tersebut, tepatnya pada 30 Maret 2026, PBB kembali mengonfirmasi dua prajurit TNI lainnya meninggal dunia setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan.


Dua prajurit tersebut adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikqwan. Selain korban jiwa, dua personel lainnya juga dilaporkan mengalami luka dalam insiden tersebut.


Dengan demikian, total empat prajurit TNI gugur dalam rangkaian serangan yang terjadi selama misi perdamaian di Lebanon Selatan.


Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia turut menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit tersebut. Pemerintah Indonesia juga mengecam keras serangan yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia.


Dalam pernyataan resminya, Kemlu RI menegaskan bahwa serangan terhadap personel penjaga perdamaian PBB merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.


Pemerintah Indonesia juga menyatakan telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak UNIFIL, Pemerintah Lebanon, dan tim medis di Beirut untuk memastikan penanganan medis bagi Praka Rico berjalan cepat dan optimal.


Selain itu, pemerintah memastikan proses pemulangan jenazah ke Tanah Air akan dilakukan secepat mungkin dengan penghormatan terbaik sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengorbanan almarhum dalam menjaga perdamaian dunia.


Indonesia juga mendesak PBB agar segera melakukan investigasi menyeluruh, transparan, dan akuntabel untuk mengungkap fakta di balik serangan tersebut serta memastikan adanya pertanggungjawaban dari pihak yang terlibat.


Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan peacekeepers PBB tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan mitigasi risiko di wilayah operasi UNIFIL menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. (Rhz2797)