Polemik terkait isu ijazah Presiden Joko Widodo kembali memanas setelah beredarnya video viral yang menyeret nama mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), Roy Suryo, dan Rismon Sianipar. Dalam video tersebut, muncul narasi bahwa JK disebut memberikan dana sebesar Rp5 miliar kepada Roy Suryo untuk memperkarakan ijazah Jokowi.
Menanggapi hal itu, Rismon Hasiholan Sianipar dengan tegas membantah isi video tersebut. Ia menyebut video yang beredar luas di media sosial itu merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), bukan pernyataan asli darinya.
Rismon menjelaskan bahwa konten tersebut dibuat dengan memanfaatkan potongan video lama dari kanal YouTube miliknya bernama Balige Academy. Menurutnya, video asli tersebut berisi kajian ilmiah dan sama sekali tidak berkaitan dengan tudingan terhadap Jusuf Kalla maupun angka Rp5 miliar yang ramai dibicarakan.
“Kemarin video AI, ya, yang video mentahnya itu berasal dari video di kanal saya, Balige Academy. Itu tentang kajian ilmiah saya yang terbaru,” ujar Rismon dalam program Rakyat Bersuara bertajuk Rismon-Roy Adu Bukti Ijazah yang disiarkan iNews, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan bahwa narasi yang beredar dalam video tersebut merupakan hasil editan pihak tidak bertanggung jawab yang menggunakan teknologi AI untuk memanipulasi isi pembicaraan. Menurutnya, video itu sengaja dibuat untuk menyeret nama tokoh-tokoh besar dan memancing kegaduhan publik.
“Itulah yang dipakai sebagai bahan mentah untuk menciptakan video AI yang saya menyebutkan nama elit bangsa ini, dan jumlah spesifik dari uang Rp5 miliar. Itu sama sekali perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Rismon juga mengungkapkan bahwa video asli yang digunakan berasal dari unggahan pada 11 Maret 2024, tepat satu malam sebelum dirinya berangkat ke Solo untuk bertemu langsung dengan Jokowi. Video tersebut kemudian dimanipulasi dan disebarkan ulang dengan narasi yang berbeda.
“Ya itu jelas AI karena video mentahnya adalah berasal dari video saya tanggal 11 Maret 2024, satu malam sebelum saya ke Solo, jumpa Pak Jokowi. Itulah dipakai,” jelasnya.
Saat diminta memberikan klarifikasi secara langsung terhadap video viral itu, Rismon menolak untuk bertanggung jawab atas konten yang bukan dibuatnya. Ia menilai, bukan dirinya yang harus disalahkan, melainkan pihak pertama yang membuat dan mengunggah video hasil manipulasi tersebut.
Karena itu, ia meminta aparat penegak hukum, khususnya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, untuk menelusuri dan menangkap pelaku penyebaran video tersebut.
“Biarkanlah penyidik di Bareskrim, khususnya Dirtipidsiber, untuk menangkap orang yang membuat itu. Pertama kali meng-upload berarti dia yang buat,” tegasnya.
Rismon juga menilai tidak masuk akal jika dirinya harus membantah satu per satu video AI serupa yang beredar di internet. Menurutnya, fenomena video palsu berbasis AI kini semakin banyak dan bisa menimpa siapa saja, termasuk tokoh publik lainnya seperti Roy Suryo.
“Banyak, ribuan video AI. Mas Roy Suryo juga banyak. Viral atau tidak ya saya tidak tahu, tetapi kan bukan tanggung jawabnya untuk membantah itu,” tutupnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi AI dapat disalahgunakan untuk menciptakan informasi palsu yang berpotensi menyesatkan publik. Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis dalam menyikapi konten viral agar tidak mudah terjebak hoaks digital. (Rhz2797)
