Pemerintah Iran menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan jaminan yang kredibel dari Amerika Serikat (AS) dan Israel agar serangan militer tidak kembali terjadi. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk Persia, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang digelar di markas besar PBB pada Senin (27/4/2026). Pertemuan itu diprakarsai oleh Bahrain dan membahas situasi keamanan di kawasan Teluk.
Iran Minta Jaminan Serangan Tidak Terulang
Dalam forum tersebut, Iravani menegaskan bahwa stabilitas dan keamanan kawasan tidak akan tercapai jika agresi terhadap Iran masih terus berlangsung. Menurutnya, perdamaian hanya bisa terwujud jika ada penghentian serangan secara permanen serta jaminan nyata bahwa aksi serupa tidak akan terulang.
Ia menyebut penghormatan terhadap kedaulatan Iran menjadi syarat utama untuk menciptakan keamanan jangka panjang di kawasan Teluk Persia dan wilayah sekitarnya.
Iran menilai jaminan tersebut sangat penting mengingat meningkatnya eskalasi konflik yang dinilai telah mengganggu stabilitas regional dan jalur perdagangan internasional.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Dunia
Dalam sidang itu, puluhan negara dilaporkan mengkritik Iran karena mengambil alih kendali atas Selat Hormuz. Jalur laut ini dikenal sebagai salah satu titik paling strategis di dunia karena menjadi jalur utama distribusi minyak global.
Namun, Iran membantah bahwa langkah tersebut menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan. Teheran justru menilai tindakan itu dilakukan untuk menjaga keamanan navigasi dan mencegah wilayah tersebut digunakan untuk kepentingan militer yang dianggap bermusuhan.
Sebagai negara pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, Iran mengklaim telah mengambil langkah praktis guna memastikan jalur pelayaran tetap aman bagi aktivitas sipil dan perdagangan internasional.
Iran Tuduh AS Berlaku Seperti Bajak Laut
Usai sidang Dewan Keamanan PBB, Iravani juga melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat. Ia menuding Washington melakukan tindakan ilegal terhadap kapal-kapal dagang Iran melalui blokade maritim dan penyitaan kapal komersial.
Menurutnya, AS bertindak dengan cara intimidatif terhadap awak kapal, melakukan penyitaan secara sepihak, hingga menahan para kru kapal yang dinilai sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.
Iran menyesalkan banyak negara anggota Dewan Keamanan PBB yang hanya fokus mengkritik Teheran, namun tidak mengecam tindakan AS terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.
Tuduhan Perang Agresi oleh AS dan Israel
Lebih lanjut, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan perang agresi besar-besaran yang tidak memiliki dasar pembenaran. Iravani menyebut sejak akhir Februari, kedua negara tersebut telah menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan di kawasan.
Ia menilai tindakan tersebut melanggar Piagam PBB dan berpotensi mengancam stabilitas tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga secara global.
Iran juga menyebut langkah-langkah seperti blokade laut, penyitaan kapal dagang, hingga penahanan awak kapal sebagai tindakan berbahaya yang dapat memperburuk konflik dan memicu krisis maritim internasional.
Dunia Menanti Respons AS dan Israel
Pernyataan tegas Iran ini menambah panas dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait keamanan Selat Hormuz yang menjadi perhatian dunia internasional.
Hingga kini, belum ada respons resmi dari Amerika Serikat maupun Israel terkait tuntutan Iran tersebut. Namun, situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan global karena dampaknya yang besar terhadap keamanan regional dan stabilitas pasar energi dunia.
Dengan posisi Selat Hormuz yang sangat vital bagi perdagangan minyak internasional, ketegangan yang terus meningkat berpotensi memengaruhi ekonomi global jika tidak segera menemukan jalan damai. (Rhz2797)
