Notification

×

Iklan

Iklan

LPG 12 Kg Naik Tajam, Banyak Warga Mulai ‘Turun Kelas’ ke Gas Melon 3 Kg

April 20, 2026 Last Updated 2026-04-20T00:51:26Z


Kenaikan harga elpiji atau LPG nonsubsidi 12 kilogram (kg) kembali menjadi sorotan publik. Harga Bright Gas 12 kg yang sebelumnya berada di kisaran Rp192.000 kini melonjak menjadi Rp228.000 per tabung, membuat banyak warga mulai mempertimbangkan beralih ke gas subsidi 3 kg.


Lonjakan harga ini terjadi bersamaan dengan naiknya harga BBM serta kebutuhan pokok lainnya, sehingga semakin menekan pengeluaran rumah tangga. Tidak sedikit masyarakat yang merasa beban hidup semakin berat dan harus mencari alternatif yang lebih hemat.


Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat, mengaku cukup terkejut saat mengetahui harga LPG 12 kg kembali naik cukup signifikan. Menurutnya, tambahan pengeluaran sekitar Rp40.000 per tabung sangat terasa dalam anggaran bulanan.


Ia mengatakan, kenaikan harga gas menjadi lebih memberatkan karena terjadi di saat harga bahan bakar dan kebutuhan dapur juga ikut meningkat. Kondisi ini membuatnya mulai mempertimbangkan kembali menggunakan gas subsidi 3 kg yang sempat ia tinggalkan setahun lalu.


Sebelumnya, Michael memilih beralih ke gas 12 kg karena sering kesulitan mendapatkan gas melon 3 kg yang kerap langka di pasaran. Namun, dengan kondisi sekarang, ia merasa harus lebih realistis dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.


Meski begitu, ia mengakui penggunaan gas subsidi juga memiliki kendala tersendiri, terutama soal ketersediaan stok yang sering kosong. Sementara opsi beralih ke tabung 5,5 kg dinilai kurang efisien karena harus membeli tabung baru.


Keluhan serupa datang dari Fia (34), warga Jakarta Selatan. Ia mengaku cukup terkejut dengan lonjakan harga Bright Gas 12 kg dibandingkan bulan sebelumnya.


Menurut Fia, meskipun dirinya masih mampu membeli gas nonsubsidi, kenaikan harga yang terlalu besar membuatnya mulai berpikir lebih hemat. Ia bahkan mengaku mulai melirik kembali tabung gas 3 kg sebagai alternatif sementara.


Dalam sebulan, keluarganya biasanya menghabiskan satu tabung Bright Gas 12 kg. Dengan kenaikan lebih dari Rp30.000 per tabung, menurutnya, selisih tersebut cukup berarti dan bisa dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.


Selama ini, Fia memilih Bright Gas karena dianggap lebih aman dan praktis. Namun jika harga terus mengalami kenaikan, ia tidak menutup kemungkinan untuk beralih ke gas subsidi meskipun merasa kurang nyaman karena barang tersebut seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.


Hal yang sama juga dirasakan Yadhi (41), warga Pasar Minggu. Ia menilai lonjakan harga dari Rp192.000 menjadi Rp228.000 terlalu besar dan membuatnya harus berpikir ulang untuk tetap menggunakan LPG nonsubsidi.


Menurutnya, dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kenaikan harga elpiji menjadi tambahan beban yang langsung terasa dalam kebutuhan sehari-hari.


Pudji (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari tiga dekade, juga mengungkapkan keluhan serupa. Ia menyebut kenaikan harga LPG 12 kg semakin menyulitkan karena terjadi bersamaan dengan naiknya berbagai kebutuhan lain seperti BBM dan bahan dapur.


Ia mengaku harus memutar otak mencari cara agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali di tengah tekanan ekonomi yang semakin besar.


Berdasarkan informasi dari laman resmi Pertamina Patra Niaga per 19 April 2026, harga Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp228.000 per tabung.


Sementara itu, untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga LPG nonsubsidi bahkan menyentuh kisaran Rp230.000 per tabung.


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan produk nonsubsidi yang memang diperuntukkan bagi masyarakat mampu.


Menurutnya, subsidi energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu, sementara kelompok masyarakat yang secara ekonomi lebih mapan diharapkan dapat berkontribusi dengan menggunakan produk nonsubsidi.


Bahlil juga memastikan harga LPG 3 kg bersubsidi tidak mengalami kenaikan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, harga LPG nonsubsidi tetap mengikuti mekanisme pasar dan dapat berubah sesuai kondisi global.


Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan banyak pengguna LPG 12 kg mulai melirik kembali gas subsidi 3 kg demi menekan pengeluaran. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi rumah tangga masih sangat terasa di tengah kenaikan berbagai kebutuhan hidup. (Rhz2797)