Notification

×

Iklan

Iklan

Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah, Ini Waktu yang Tepat untuk Borong?

April 27, 2026 Last Updated 2026-04-27T07:38:18Z


Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sorotan setelah mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan pekan lalu. Harga saham BBCA tercatat melemah 5,84 persen ke level Rp 6.050 per saham, sekaligus menjadi posisi terendah sejak tahun 2021 saat pandemi Covid-19.


Dalam satu hari perdagangan, aksi jual investor asing atau net foreign sell (NFS) di saham BBCA mencapai Rp 2,1 triliun. Meski terlihat cukup mengkhawatirkan, para analis menilai penurunan ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan tekanan makro ekonomi global, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan.


Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menjelaskan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada BBCA, tetapi juga melanda seluruh saham bank besar di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan bersifat sektoral, bukan masalah spesifik yang hanya dialami oleh BBCA.


Sebagai contoh, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,81 persen ke level Rp 4.500 dengan net foreign sell mencapai Rp 655 miliar. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga melemah 2,85 persen menjadi Rp 3.070 dengan aksi jual asing sebesar Rp 447,3 miliar.


Menurut Jonathan, investor asing saat ini sedang melakukan penyesuaian portofolio terhadap risiko makro ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Saham sektor perbankan menjadi salah satu yang paling terdampak karena dianggap sebagai cerminan langsung kondisi ekonomi nasional.


“Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh perekonomian. Jika prospek makro memburuk, saham perbankan biasanya menjadi yang pertama terkena dampaknya,” jelas Jonathan, Senin (27/4/2026).


Salah satu pemicu utama tekanan pasar berasal dari konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum menunjukkan tanda mereda. Ketegangan tersebut mendorong harga energi tetap tinggi, sehingga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global.


Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga turut menambah kekhawatiran investor. Kenaikan biaya energi membuat beban operasional banyak perusahaan meningkat dan berpotensi memperlambat pertumbuhan laba emiten secara keseluruhan.


Tekanan tambahan juga datang dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta hasil review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kondisi ini membuat arus dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.


Meski demikian, fundamental BBCA dinilai masih sangat solid. Jonathan menegaskan bahwa kinerja internal perusahaan tetap sehat dan manajemen juga terus menjaga daya tarik bagi investor, salah satunya melalui kebijakan pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun.


Pada kuartal I 2026, BBCA berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun atau tumbuh 4 persen secara tahunan. Capaian ini dinilai sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus tahunan.


Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menyebut pendapatan non-bunga yang kuat berhasil menopang kinerja perusahaan di tengah tekanan pada net interest margin (NIM).


Pertumbuhan kredit BBCA juga masih terjaga di kisaran 6 persen secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara itu, pembiayaan konsumer, khususnya kendaraan bermotor, masih menghadapi tantangan.


Secara kualitas aset, kondisi BBCA juga dinilai tetap stabil. Perbaikan pada segmen wholesale mampu mengimbangi pelemahan kredit di sektor ritel, sehingga profil risiko perusahaan masih terjaga dengan baik.


BBCA juga tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun 2026 di kisaran 8 hingga 10 persen, dengan NIM diproyeksikan berada pada level 5,4 hingga 5,6 persen.


BRI Danareksa Sekuritas pun masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 per saham. Artinya, terdapat potensi kenaikan yang cukup besar dibanding harga saat ini.


Menurut analis, valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis dan mendekati area menarik untuk akumulasi jangka panjang. Dengan downside yang dinilai terbatas, banyak investor mulai melihat pelemahan ini sebagai peluang masuk yang menarik. (Rhz2797)