Dunia teknologi kembali dikejutkan dengan kemunculan startup bernama RentAHuman.ai. Perusahaan ini menawarkan konsep tak biasa: memungkinkan agen kecerdasan buatan (AI) “menyewa” tubuh manusia untuk menjalankan tugas fisik di dunia nyata.
Model bisnis ini langsung memicu perbincangan luas karena menggabungkan AI, ekonomi gig, dan pembayaran berbasis aset kripto dalam satu ekosistem.
Bagaimana Cara Kerja RentAHuman.ai?
Startup yang didirikan oleh Alexander Liteplo ini menyediakan platform agar agen AI bisa:
- Mencari manusia berdasarkan lokasi dan keahlian
- Membooking jasa mereka
- Memberikan instruksi tugas
- Membayar hasil kerja dalam bentuk kripto
Manusia yang mendaftar cukup membuat profil berisi informasi lokasi, kemampuan, serta tarif per jam. Setelah itu, bot otonom dapat memilih kandidat sesuai kebutuhan dan mengirimkan instruksi tugas.
AI kemudian meminta bukti bahwa pekerjaan telah selesai sebelum pembayaran dikirim dalam bentuk aset kripto.
Pendaftar Tembus 73.000 Orang dalam Dua Hari
Menurut laporan media teknologi Futurism, saat peluncuran awal pada 2 Februari 2026, Liteplo mengklaim sudah ada lebih dari 130 orang mendaftar.
Namun dalam dua hari, jumlah tersebut melonjak drastis hingga sekitar 73.000 pendaftar. Meski demikian, hanya puluhan profil yang benar-benar terlihat di laman pencarian situs tersebut.
Latar belakang pendaftar pun beragam, mulai dari kreator konten hingga eksekutif startup.
Tugas Apa yang Bisa Dikerjakan?
Contoh tugas yang ditawarkan cukup unik, seperti:
- Berlangganan akun media sosial (dibayar mulai US$1)
- Mengambil paket atau menghadiri acara
- Mengambil foto selfie dengan pesan tertentu (hingga US$100)
Konsep ini mirip dengan model gig economy yang dipopulerkan oleh Uber dan diadaptasi di Indonesia oleh Gojek serta Grab. Bedanya, kali ini “pemberi kerja” bukan manusia, melainkan AI.
Liteplo bahkan merancang sistem agar situsnya ramah terhadap bot dengan dukungan server berbasis Model Context Protocol (MCP), sehingga agen AI seperti Claude dapat langsung berinteraksi tanpa campur tangan manusia.
Masa Depan Gig Economy atau Kontroversi Baru?
Liteplo meyakini bahwa “robot butuh tubuh manusia” untuk mengeksekusi tugas fisik yang tak bisa dilakukan secara digital. Ia melihat peluang besar dalam membangun ekosistem kerja serabutan generasi baru berbasis AI.
Namun, konsep ini juga memunculkan pertanyaan etis dan hukum:
Apakah AI boleh “mempekerjakan” manusia? Bagaimana regulasi ketenagakerjaan dan perlindungan data akan diterapkan?
Dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan kripto, platform seperti RentAHuman.ai bisa saja menjadi tren baru — atau justru memicu perdebatan global.
Yang jelas, dunia kerja digital tampaknya akan semakin berubah dalam beberapa tahun ke depan.
