Tidak semua orangtua siap menerima kenyataan saat anak didiagnosis mengalami gangguan perkembangan seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Perasaan sedih, bingung, hingga terpukul kerap menjadi reaksi pertama yang muncul.
Hal tersebut dialami Debby Rosaliana Febriani (40), seorang ibu rumah tangga di Manggarai, Jakarta Selatan. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa putra semata wayangnya, Azzikra Benzema Ibnusina (10), terdiagnosis ADHD setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis dan psikologis.
Sejak usia balita, Debby sudah merasakan ada hal yang berbeda pada anaknya. Ketika berusia sekitar satu tahun delapan bulan, perilaku sang anak dinilai jauh lebih aktif dibandingkan anak seusianya.
Debby yang terbiasa mengasuh keponakan mengaku cukup memahami perkembangan anak pada umumnya. Namun, ia melihat putranya tidak bisa diam dan memiliki tingkat keaktifan yang ekstrem. Bahkan, anaknya kerap memanjat lemari hingga pagar rumah, sesuatu yang jarang dilakukan anak lain.
Tak hanya itu, perkembangan bicara sang anak juga tergolong lambat. Hingga usia lebih dari satu tahun, ia belum mampu berbicara dengan lancar dan hanya mengucapkan beberapa kata sederhana. Kondisi ini membuat Debby semakin yakin ada yang perlu diperiksakan lebih lanjut.
Titik terang mulai muncul saat Debby bertemu kerabat yang berprofesi sebagai konselor ketika menghadiri acara keluarga di Surabaya. Dari pengamatan singkat, kerabat tersebut langsung mencurigai adanya gejala ADHD.
Selama berada di Surabaya, anak Debby sempat menjalani terapi awal selama 10 hari. Setelah kembali ke Jakarta, ia melanjutkan pengobatan dengan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan di salah satu rumah sakit.
Meski telah memiliki gambaran tentang ADHD sebelumnya, Debby mengaku tetap terpukul saat diagnosis tersebut dipastikan. Ia bahkan sempat menangis karena merasa seperti disambar petir.
Namun, dukungan dari keluarga membuatnya bangkit. Ia diingatkan bahwa ada dua pilihan: membiarkan kondisi anak tanpa penanganan atau menghadapi dengan kesabaran dan usaha maksimal.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kini, kondisi anak Debby jauh lebih baik. Ia tidak lagi menjalani terapi rutin secara intensif dan sudah bisa bersekolah di SD negeri bersama teman-teman seusianya.
Kisah serupa juga dialami Justito Adiprasetio, yang sempat merasa terpukul ketika dokter menyebut kemungkinan anaknya mengalami ADHD, Autism Spectrum Disorder (ASD), atau hambatan kognitif.
Kekhawatiran terhadap stigma sosial di lingkungan sekitar sempat membuatnya cemas. Namun, ia menyadari bahwa kesedihan tidak akan menyelesaikan masalah. Ia pun aktif mencari diagnosis sejak anaknya masih berusia satu tahun empat bulan.
Menurutnya, meski diagnosis pasti ADHD umumnya ditegakkan sekitar usia enam tahun, deteksi dini tetap sangat penting untuk mempercepat penanganan. Kini, anaknya mampu beraktivitas normal, bahkan menunjukkan kemampuan matematika di atas rata-rata.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesialis Anak dan Remaja, Anggia Hapsari, menjelaskan bahwa ADHD umumnya mulai terlihat sebelum anak berusia tujuh tahun. Gejala utama meliputi kesulitan fokus, perilaku hiperaktif, dan impulsif.
Ia menegaskan bahwa ADHD bukan penyakit yang bisa disembuhkan sepenuhnya, melainkan kondisi yang dapat dikelola dengan baik. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan ADHD tetap berpeluang menjalani hidup produktif dan sukses.
Penanganan ADHD biasanya melibatkan edukasi keluarga, terapi perilaku, pelatihan keterampilan, hingga pengobatan jika diperlukan. Peran orangtua menjadi sangat penting dalam proses ini.
Sayangnya, masih banyak orangtua yang keliru dalam menghadapi anak dengan ADHD. Beberapa kesalahan umum antara lain menganggap anak malas atau nakal, terlalu sering memarahi, hingga tidak mencari bantuan profesional.
Selain itu, penggunaan gadget sebagai cara instan untuk menenangkan anak juga dinilai kurang tepat. Pendekatan yang disarankan adalah dengan kesabaran, konsistensi, serta pemahaman terhadap kondisi anak.
Dengan pola asuh yang tepat dan dukungan penuh dari keluarga, anak dengan ADHD tetap memiliki peluang besar untuk berkembang secara optimal dan meraih masa depan yang cerah.(Rhz2797)
