Peristiwa viral yang melibatkan seorang bayi berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia saat pendakian menuai perhatian luas publik. Insiden tersebut terjadi di Gunung Ungaran, tepatnya di kawasan Puncak Bondolan, dan menjadi pengingat penting soal keselamatan anak di alam bebas.
Dalam video yang beredar, tim dari Basarnas terlihat sigap melakukan evakuasi di tengah kondisi cuaca ekstrem. Bayi perempuan berinisial LL itu tampak terus menangis dengan kondisi tubuh yang menunjukkan penurunan suhu drastis.
Menurut keterangan resmi, kondisi bayi saat itu cukup kritis akibat paparan suhu dingin yang ekstrem. Beruntung, tim SAR yang sedang siaga dalam kegiatan di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan cepat.
Menanggapi kejadian ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa anak kecil bukanlah versi mini dari orang dewasa. Ia menekankan bahwa balita sangat rentan kehilangan panas tubuh, terutama di lingkungan dengan suhu rendah seperti pegunungan.
“Anak usia 1,5 tahun sangat mudah mengalami penurunan suhu tubuh. Risiko semakin besar jika perjalanan jauh dan cuaca tidak menentu,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa membawa balita ke lokasi dengan potensi hujan, suhu dingin ekstrem, atau kondisi alam yang tidak stabil sangat tidak direkomendasikan.
Pendapat serupa disampaikan oleh Yogi Prawira dari IDAI. Ia menyoroti kesalahan persepsi sebagian orang tua yang menganggap anak akan kuat mendaki hanya karena orang tuanya terbiasa naik gunung.
Menurutnya, secara biologis anak lebih rentan karena frekuensi napas lebih cepat, sehingga kehilangan cairan dan panas tubuh juga lebih cepat dibanding orang dewasa.
Sebagai solusi, ia menyarankan pendekatan bertahap jika ingin mengenalkan anak pada alam, yakni dengan prinsip “start low, go slow”. Artinya, mulai dari aktivitas ringan di tempat rendah, bukan langsung ke pendakian gunung tinggi.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa minimnya akses fasilitas kesehatan di gunung menjadi faktor risiko tambahan. Orang tua harus memiliki pengetahuan dasar penanganan darurat, seperti menjaga kehangatan tubuh anak, termasuk metode skin-to-skin jika diperlukan.
Kasus ini menjadi peringatan serius bagi para orang tua agar tidak memaksakan aktivitas ekstrem pada anak usia dini. Keselamatan dan kesehatan anak harus selalu menjadi prioritas utama dibandingkan ambisi atau keinginan pribadi. (Rhz2797)
