Pemerintah Kota Cirebon resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit campak setelah dua pasien anak dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi serius dari penyakit tersebut. Lonjakan kasus yang terjadi sejak akhir Desember 2025 hingga April 2026 menjadi alasan utama penetapan status darurat kesehatan ini.
Dinas Kesehatan Kota Cirebon mencatat peningkatan kasus campak yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang tahun 2025, jumlah kasus campak tercatat sebanyak 238 pasien. Namun pada tahun 2026, hingga Februari saja jumlah kasus sudah mencapai 150 pasien dan terus bertambah hingga April.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawati, menjelaskan bahwa status KLB ditetapkan karena angka penyebaran campak masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah daerah pun terus melakukan pemantauan ketat agar penyebaran penyakit ini tidak semakin meluas.
Menurutnya, kasus campak saat ini masih aktif terjadi di berbagai wilayah dan membutuhkan respons cepat, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti balita dan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Cirebon, RSD Gunung Jati juga mengalami peningkatan jumlah pasien rawat inap akibat campak. Dalam tiga bulan pertama tahun 2026, sebanyak 50 pasien campak harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut.
Direktur Utama RSD Gunung Jati, Katibi, menyebut sebagian besar pasien yang dirawat merupakan balita. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena anak usia dini memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi saat terinfeksi campak.
Dokter Spesialis Anak RSD Gunung Jati, dr. Suci Saptyuni Permadi, mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien datang ke rumah sakit dengan komplikasi radang paru-paru atau bronkopneumonia. Komplikasi inilah yang membuat kondisi pasien menjadi lebih berat dan membutuhkan penanganan intensif.
Dua pasien yang meninggal dunia diketahui juga memiliki kondisi kesehatan lain yang memperparah keadaan, seperti gizi buruk dan kelainan jantung bawaan. Selain itu, sebagian besar pasien dengan kondisi berat tercatat belum mendapatkan imunisasi campak atau memiliki riwayat imunisasi yang tidak lengkap.
Pemerintah Kota Cirebon kini fokus mempercepat langkah penanganan dengan meningkatkan cakupan vaksinasi di masyarakat. Program imunisasi massal dan edukasi kepada orang tua terus digencarkan agar kasus serupa dapat dicegah sedini mungkin.
Selain vaksinasi, Dinas Kesehatan juga melakukan sosialisasi secara masif agar masyarakat lebih waspada terhadap gejala awal campak seperti demam tinggi, munculnya bintik merah pada tubuh, batuk, pilek, dan mata merah.
Orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila menemukan gejala tersebut agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi berat dapat diminimalkan. (Rhz2797)
