Aksi demonstrasi mahasiswa yang digelar di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat (12/6), kembali memunculkan narasi "Reformasi Jilid II". Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan stabilitas nasional.
Pernyataan itu disampaikan Herindra usai menghadiri rapat bersama Komisi I DPR RI pada Kamis (11/6). Menurutnya, perbedaan pandangan dan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat harus disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi bangsa.
"Yang penting kita semua harus menjaga persatuan dan kesatuan. Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua," ujar Herindra kepada awak media.
Aksi yang digelar mahasiswa tersebut direncanakan melibatkan berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi. Dalam agenda demonstrasi, para peserta mengusung tema Reformasi Jilid II dan menyampaikan sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah.
Setidaknya terdapat lima tuntutan utama yang akan dibawa massa aksi. Pertama, mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kedua, meminta penurunan harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai membebani masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Mereka turut menyuarakan penolakan terhadap praktik yang disebut sebagai militerisme sipil, serta meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui berbagai persoalan yang dianggap sebagai kesalahan pemerintah.
Ketua BEM UI, Anandaku Dimas Rumi, menyebut istilah Reformasi Jilid II merupakan bagian dari semangat dan simbol perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, ia menilai istilah tersebut juga dapat dimaknai sebagai retorika yang berkembang dalam gerakan mahasiswa saat ini.
"Apakah ini akan menjadi Reformasi Jilid II atau tidak, mungkin itu menjadi retorika kita bersama," kata Dimas.
Ia memastikan seluruh BEM fakultas di Universitas Indonesia akan ikut serta dalam aksi tersebut. Selain mahasiswa UI, sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai kampus juga disebut telah menyatakan dukungan dan kesiapan untuk bergabung.
Beberapa kampus yang dikabarkan akan mengirimkan perwakilan antara lain Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pancasila, hingga Universitas Gunadarma. Sementara itu, sejumlah kelompok mahasiswa dan organisasi pergerakan lainnya masih melakukan konsolidasi untuk menentukan jumlah massa yang akan turun ke jalan.
Aksi ini menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar dalam beberapa waktu terakhir karena melibatkan berbagai elemen kampus dan membawa isu ekonomi, sosial, hingga tata kelola pemerintahan yang menjadi perhatian publik.(Rhz2797)
