Notification

×

Iklan

Iklan

Cuaca Panas Saat El Nino Ternyata Bisa Picu DBD pada Anak, Orangtua Diminta Waspada

Mei 19, 2026 Last Updated 2026-05-19T13:09:28Z


Cuaca panas ekstrem saat fenomena El Nino ternyata bukan hanya membuat tubuh lebih mudah gerah dan dehidrasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko demam berdarah dengue (DBD) pada anak.


Peringatan tersebut muncul karena banyak keluarga mulai menyimpan cadangan air selama musim kemarau panjang. Jika tempat penampungan air tidak dikelola dengan baik, kondisi itu bisa menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.


Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), mengatakan perubahan cuaca akibat El Nino memengaruhi kondisi lingkungan yang berkaitan langsung dengan kesehatan anak.


“Saat kemarau panjang, masyarakat cenderung menyimpan air dalam berbagai wadah. Kalau tidak ditutup atau dibersihkan rutin, itu bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” ujar dr. Darmawan dalam webinar IDAI bertema dampak El Nino terhadap kesehatan anak, Selasa (19/5/2026).


Tempat Penampungan Air Bisa Jadi Sarang Nyamuk


Menurut dr. Darmawan, banyak masyarakat tidak menyadari bahwa wadah penyimpanan air di rumah dapat menjadi lokasi ideal bagi nyamuk Aedes aegypti bertelur.


Tak hanya bak mandi, wadah seperti ember, toren air, penampung air hujan, hingga tempat penyimpanan air lainnya juga berpotensi menjadi sarang nyamuk jika jarang dibersihkan.


Ia menegaskan bahwa musim kemarau bukan berarti risiko DBD menurun. Justru saat banyak wadah air terbuka dan tidak dirawat, potensi penyebaran nyamuk demam berdarah bisa meningkat.


“Kadang masyarakat merasa aman karena sedang musim panas, padahal banyak tempat air yang dibiarkan terbuka,” katanya.


Anak Jadi Kelompok Paling Rentan


Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terdampak penyakit akibat perubahan lingkungan dan cuaca ekstrem.


Karena itu, orangtua diminta lebih peka terhadap kondisi kesehatan anak, terutama jika muncul gejala seperti demam tinggi, tubuh lemas, hingga tanda-tanda yang mengarah pada DBD.


“Kalau anak demam atau terlihat lemas, jangan dianggap biasa dan jangan menunda pemeriksaan,” ujar dr. Piprim.


Ia menilai perubahan iklim saat ini membuat risiko penyakit infeksi pada anak semakin perlu diwaspadai.


Pencegahan DBD Dimulai dari Rumah


IDAI menekankan bahwa pencegahan DBD paling efektif dimulai dari lingkungan rumah sendiri. Langkah sederhana seperti menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi secara rutin, dan membersihkan wadah penyimpanan air dinilai sangat penting.


Selain itu, barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan juga perlu diperhatikan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.


Menurut IDAI, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten menjadi salah satu cara terbaik untuk melindungi anak dari risiko penyakit selama musim kemarau dan cuaca ekstrem akibat El Nino.


Fenomena perubahan iklim kini bukan hanya berdampak pada suhu udara, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang lebih rentan terhadap penyakit infeksi. (RHz2797)