Notification

×

Iklan

Iklan

Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18.200, Efeknya Bisa Bikin Harga-Harga Makin Ganas

Mei 29, 2026 Last Updated 2026-05-29T16:39:52Z


Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat dalam beberapa waktu ke depan. Bahkan sejumlah analis memprediksi dolar Amerika Serikat berpotensi menembus level Rp 18.000 hingga Rp 18.200 per dolar AS.


Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah saat ini masih sangat sulit dibendung meski dolar AS sempat mengalami koreksi di pasar global.


Menurutnya, apabila level Rp 18.000 berhasil ditembus, maka peluang dolar bergerak menuju Rp 18.200 akan semakin besar. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu dampak ekonomi berantai di Indonesia.


Investor dan Masyarakat Mulai Tinggalkan Rupiah


Pelemahan rupiah disebut bukan hanya berdampak pada sektor perdagangan, tetapi juga memengaruhi psikologi pasar. Saat dolar terus menguat, banyak investor dan masyarakat diperkirakan mulai mengalihkan aset mereka ke mata uang asing demi menjaga nilai kekayaan.


Fenomena perpindahan dana dari tabungan rupiah ke dolar AS dikhawatirkan semakin memperparah tekanan terhadap mata uang domestik. Jika kondisi ini terus terjadi, permintaan dolar akan meningkat dan membuat rupiah makin terpuruk.


Harga Barang Impor Terancam Melonjak


Dampak paling cepat dirasakan dari melemahnya rupiah adalah kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri. Indonesia yang masih bergantung pada impor sejumlah komoditas diprediksi akan terkena efek besar.


Salah satu contohnya adalah kedelai impor yang menjadi bahan utama berbagai produk makanan. Ketika dolar naik, biaya impor ikut melonjak sehingga harga produk olahan di dalam negeri juga berpotensi naik.


Kenaikan harga tersebut bisa memicu inflasi di berbagai sektor dan membuat beban pengeluaran masyarakat semakin berat.


Biaya Produksi dan Logistik Ikut Naik


Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengatakan pelemahan rupiah dapat membuat biaya produksi industri meningkat tajam.


Selain harga bahan baku impor yang naik, biaya logistik dan distribusi juga diperkirakan ikut terdorong. Akibatnya, pelaku usaha kemungkinan akan menaikkan harga jual barang lebih cepat dibanding sebelumnya.


Menurut Bhima, selama ini kenaikan harga akibat perubahan kurs biasanya memiliki jeda beberapa bulan. Namun dalam situasi rupiah yang terus melemah drastis, perusahaan diprediksi tidak lagi mampu menahan harga terlalu lama.


Daya Beli Masyarakat Terancam Melemah


Kondisi ini dinilai berbahaya bagi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tetap, tekanan ekonomi rumah tangga akan semakin berat.


Bhima juga memperingatkan potensi munculnya imported inflation atau inflasi akibat mahalnya biaya impor. Jika terus berlanjut, situasi ini dapat memperbesar risiko kemiskinan dan pengangguran.


Ancaman PHK Massal Mengintai


Sektor industri padat karya disebut menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor kemungkinan akan melakukan efisiensi besar-besaran untuk menekan biaya operasional.


Langkah efisiensi itu dapat berupa pengurangan produksi hingga pemutusan hubungan kerja atau PHK massal. Jika hal tersebut terjadi, daya beli masyarakat diperkirakan akan semakin terpukul.


Kelas Menengah Disebut Paling Rentan


Bhima menilai kelompok masyarakat kelas menengah menjadi pihak yang paling tertekan dalam kondisi dolar yang terus menguat. Di satu sisi mereka menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup, sementara di sisi lain muncul ancaman kehilangan pekerjaan.


Sementara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dinilai masih memiliki kemampuan untuk mengamankan aset dengan membeli dolar AS. Hal ini justru bisa mempercepat pelemahan rupiah karena permintaan dolar semakin tinggi.


Apabila situasi tidak segera membaik, tekanan ekonomi diperkirakan akan semakin terasa pada paruh kedua 2026, terutama bagi masyarakat yang sudah hidup dalam kondisi finansial pas-pasan.(Rhz2797)