Notification

×

Iklan

Iklan

Dunia Berubah! Selat Hormuz Ditutup, Jalur Dagang Global Kini Putar Arah Lewat Darat

Mei 01, 2026 Last Updated 2026-05-01T11:12:14Z


Penutupan Selat Hormuz dalam dua bulan terakhir mulai mengguncang peta perdagangan global. Jalur laut yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dan barang kini terhambat, memaksa perusahaan pelayaran mengalihkan pengiriman melalui jalur darat.


Situasi ini berdampak langsung pada distribusi bahan pangan hingga barang manufaktur ke kawasan Teluk. Kapal tidak lagi bisa menjangkau sejumlah pelabuhan utama, sehingga pengiriman dilanjutkan menggunakan truk lintas negara setelah bongkar muat di pelabuhan alternatif.


Salah satu titik krusial kini bergeser ke Pelabuhan Jeddah di Arab Saudi. Pelabuhan yang terhubung dengan Terusan Suez ini menjadi pusat distribusi baru bagi perusahaan pelayaran besar seperti Maersk, CMA CGM, MSC, dan COSCO.


Dari Jeddah, barang kemudian diangkut melalui jalur darat menuju berbagai negara tujuan seperti Sharjah, Bahrain, hingga Kuwait. Namun lonjakan volume distribusi ini memicu kepadatan parah, dengan waktu tunggu bongkar muat meningkat dari 17 jam menjadi sekitar 36 jam.


Selain Jeddah, sejumlah pelabuhan alternatif juga mulai dimanfaatkan, seperti Pelabuhan Sohar, Khor Fakkan Port, dan Fujairah Port. Sementara itu, Pelabuhan Aqaba menjadi jalur penting untuk distribusi ke Irak, termasuk Baghdad dan Basra. Jalur darat dari Turki juga mulai digunakan untuk memasok wilayah Irak bagian utara.


Perubahan jalur ini sebenarnya sudah dimulai sejak meningkatnya ketegangan di Laut Merah pada akhir 2023, akibat serangan kelompok Houthi terhadap kapal komersial. Sejak saat itu, banyak kapal memilih memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk menuju Eropa.


Data menunjukkan sekitar 70 persen lalu lintas kapal yang sebelumnya melewati Laut Merah kini telah dialihkan ke rute tersebut. Aktivitas pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb pun turun drastis, dari 18 kapal per hari menjadi hanya sekitar lima kapal.


Dampaknya terasa signifikan pada rantai pasok global. Waktu pengiriman antara Asia dan Eropa kini bertambah hingga dua pekan. Biaya operasional pun melonjak, dengan kebutuhan bahan bakar meningkat 30 hingga 50 persen, serta tambahan armada kapal hingga 20 persen untuk menjaga frekuensi layanan.


Kenaikan biaya ini ikut mendorong tarif pengiriman kontainer 40 kaki naik sekitar 14 persen pada April dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, beberapa pelabuhan justru mendapat keuntungan, seperti Tanger Med Port yang mencatat lonjakan aktivitas hingga 11 juta kontainer pada 2025.


Sebaliknya, Mesir mengalami kerugian besar akibat turunnya trafik di Terusan Suez. Pendapatan kanal tersebut anjlok lebih dari 60 persen atau sekitar 7 miliar dolar AS pada 2024.


Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga mengguncang sistem logistik global. Industri pelayaran kini dipaksa beradaptasi cepat dengan rute baru yang lebih panjang, mahal, dan kompleks. (Rhz2797)