Notification

×

Iklan

Iklan

Pakar Ingatkan Bahaya BPA pada Galon Guna Ulang, Bisa Picu Pubertas Dini pada Anak?

Juni 12, 2026 Last Updated 2026-06-12T02:31:04Z


Pubertas dini pada anak menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian para ahli. Selain faktor genetik, kondisi ini juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, termasuk paparan zat kimia yang berpotensi mengganggu sistem hormon dalam tubuh.


Pakar Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG, menjelaskan bahwa faktor genetik memang tidak dapat diubah karena sudah melekat sejak lahir. Namun, faktor lingkungan masih bisa dikendalikan sehingga menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan pubertas dini pada anak.


Menurutnya, terdapat sejumlah zat kimia di lingkungan sekitar yang berpotensi mengganggu keseimbangan hormon manusia. Zat-zat tersebut dapat ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari kemasan makanan, kemasan minuman, hingga polutan yang tersebar di lingkungan.


Salah satu zat yang menjadi perhatian adalah Bisphenol A atau BPA. Senyawa ini dikenal sebagai bahan yang digunakan dalam sejumlah produk plastik dan kemasan tertentu. Dalam beberapa penelitian, BPA disebut memiliki sifat yang dapat meniru kerja hormon estrogen di dalam tubuh.


Karena memiliki karakteristik yang menyerupai hormon estrogen, paparan BPA pada usia dini dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan organ reproduksi dan memicu perubahan biologis lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Kondisi inilah yang kemudian dikaitkan dengan risiko terjadinya pubertas dini pada anak, terutama perempuan.


Selain berdampak pada perubahan fisik, pubertas dini juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Ketika perkembangan tubuh terjadi lebih cepat dibandingkan teman seusianya, anak berpotensi menghadapi tekanan emosional, rasa tidak percaya diri, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial.


Sejumlah kajian internasional juga mengaitkan pubertas dini dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan di kemudian hari. Mulai dari obesitas, diabetes, gangguan kardiovaskular, hingga peningkatan risiko kanker payudara disebut memiliki hubungan dengan kondisi tersebut.


Dalam kehidupan sehari-hari, paparan BPA dapat berasal dari berbagai sumber. Produk kemasan makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling sering mendapat perhatian. Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam memilih dan menggunakan wadah plastik, terutama yang digunakan berulang kali dalam jangka panjang.


Meski demikian, penggunaan kemasan pangan di Indonesia tetap berada di bawah pengawasan regulator. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas migrasi BPA yang diperbolehkan pada kemasan pangan guna menjaga keamanan konsumen.


Selain masalah pubertas dini, para ahli juga menyoroti kemungkinan dampak zat pengganggu hormon terhadap kesehatan reproduksi secara umum. Paparan jangka panjang terhadap senyawa tertentu disebut dapat berkaitan dengan berbagai gangguan pada sistem reproduksi, baik pada perempuan maupun laki-laki.


Sementara itu, psikolog Ratih Zulhaqqi menilai peran keluarga sangat penting dalam mendeteksi dan mencegah pubertas dini. Orang tua disarankan memperhatikan pola tidur, pola makan, aktivitas fisik, serta jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak setiap hari.


Kesadaran terhadap faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan anak menjadi langkah penting dalam pencegahan. Dengan menerapkan pola hidup sehat dan lebih selektif dalam penggunaan produk berbahan plastik, risiko paparan zat yang berpotensi mengganggu hormon dapat diminimalkan sejak dini.(Rhz2797)