Notification

×

Iklan

Iklan

Peringatan Serius! Udara di Tangsel dan Bandung Masuk Zona Tidak Sehat, Jakarta Tergeser

Juni 15, 2026 Last Updated 2026-06-15T08:57:07Z


Kualitas udara di sejumlah kota besar Indonesia kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan peningkatan tingkat polusi yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada pagi hari, kawasan Tangerang Selatan dan sekitarnya tercatat sebagai wilayah dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di Indonesia.


Data indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) menunjukkan bahwa kawasan Serpong berada di posisi teratas dengan nilai AQI mencapai 191. Sementara itu, Tangerang Selatan menyusul di urutan kedua dengan AQI 190. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan.


Dalam standar kualitas udara, AQI pada rentang 151 hingga 200 menandakan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk masalah pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Karena itu, masyarakat disarankan untuk mengurangi aktivitas luar ruangan ketika tingkat polusi sedang tinggi.


Menariknya, Kota Bandung kini menempati posisi lebih buruk dibanding Jakarta dalam daftar kota dengan kualitas udara terendah. Bandung mencatat AQI sebesar 153, sedangkan Jakarta berada di angka 122. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah polusi udara tidak hanya terjadi di ibu kota, tetapi juga meluas ke berbagai daerah perkotaan lainnya.


Berikut daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk berdasarkan indeks AQI:


  • Serpong – 191
  • Tangerang Selatan – 190
  • Bandung – 153
  • Semarang – 128
  • Surabaya – 125
  • Jakarta – 122
  • Tangerang – 108
  • Jambi – 82
  • Palembang – 80
  • Pekanbaru – 62


Selain tingginya nilai AQI, konsentrasi partikel PM2.5 juga menjadi perhatian utama. PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah. Paparan jangka panjang terhadap partikel ini diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari asma, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru-paru.


Berdasarkan pemantauan yang ada, rata-rata kadar PM2.5 di sejumlah kota yang masuk daftar terpolusi tercatat sekitar enam kali lebih tinggi dibanding batas aman tahunan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi risiko kesehatan apabila terpapar polusi udara dalam jangka waktu panjang.


Dominasi Tangerang Selatan sebagai salah satu wilayah dengan kualitas udara terburuk sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kota penyangga Jakarta tersebut kerap berada di peringkat atas daftar wilayah paling berpolusi di Indonesia.


Tingginya volume kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembangunan infrastruktur yang masif, serta faktor cuaca diduga menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara di kawasan tersebut. Tidak hanya Tangerang Selatan, sejumlah kota besar di Pulau Jawa juga masih mendominasi daftar wilayah dengan tingkat polusi tinggi akibat kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang sangat intensif.


Di tengah kabar buruk mengenai kualitas udara di berbagai kota besar, terdapat kabar positif dari wilayah Indonesia bagian timur. Kota Mamuju di Sulawesi Barat tercatat sebagai salah satu daerah dengan kualitas udara terbaik dan paling bersih di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara yang sehat masih dapat dipertahankan di daerah dengan tingkat urbanisasi dan aktivitas industri yang lebih rendah.


Para ahli kesehatan lingkungan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak polusi udara. Menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, serta rutin memantau informasi AQI menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat pencemaran udara.(Rhz2797)