Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura ternyata membawa dampak tersendiri bagi sektor pariwisata dan perdagangan di Jakarta. Kondisi tersebut membuat ibu kota Indonesia semakin menarik di mata wisatawan asal Singapura yang ingin menikmati pengalaman belanja dan kuliner dengan biaya yang lebih terjangkau.
Fenomena ini turut mendapat perhatian media Singapura, The Straits Times. Dalam laporannya, media tersebut menyoroti bagaimana pelemahan rupiah berhasil meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai destinasi favorit untuk berburu produk fesyen, makanan, hingga berbagai kebutuhan lainnya.
Meski Jakarta sempat menjadi sorotan akibat sejumlah kasus kejahatan jalanan dan video viral yang memperlihatkan aksi perampokan terhadap wisatawan, sebagian besar turis Singapura mengaku tidak terlalu terpengaruh oleh pemberitaan tersebut. Mereka tetap memilih datang karena melihat peluang mendapatkan nilai lebih dari setiap dolar yang dibelanjakan.
Salah seorang wisatawan asal Singapura, Noraini Rahmat, mengaku sengaja mengunjungi Jakarta bersama keluarganya untuk menjalani agenda belanja selama beberapa hari. Menurutnya, nilai tukar yang menguntungkan membuat anggaran perjalanan menjadi lebih efisien dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selama berada di Jakarta, Noraini dan rombongannya mengunjungi sejumlah pusat perbelanjaan populer. Mereka berburu busana muslim, produk merek lokal, hingga berbagai makanan khas yang nantinya dibawa pulang ke Singapura sebagai oleh-oleh.
Meski menyadari adanya laporan terkait tindak kriminal yang menyasar wisatawan, ia menilai kewaspadaan dasar tetap menjadi kunci saat bepergian ke kota mana pun. Baginya, langkah sederhana seperti menjaga barang bawaan dan tidak menggunakan ponsel secara sembarangan di area ramai sudah cukup untuk mengurangi risiko.
Pandangan serupa juga disampaikan wisatawan lainnya, Marcus Tan. Pria berusia 38 tahun itu memanfaatkan waktu singgah di Jakarta setelah berlibur di kawasan Nusa Tenggara Timur untuk berbelanja sebelum kembali ke negaranya.
Menurut Marcus, nilai tukar saat ini membuat daya beli wisatawan Singapura meningkat secara signifikan. Dengan jumlah uang yang sama, ia merasa bisa membeli lebih banyak barang, menikmati lebih banyak kuliner, dan tetap mengeluarkan biaya yang lebih rendah dibandingkan ketika berbelanja di negaranya sendiri.
Ia juga menilai sejumlah produk yang sebenarnya tersedia di Singapura masih dijual dengan harga lebih murah di Indonesia setelah dikonversi ke mata uang negaranya. Faktor tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Jakarta tetap menjadi tujuan favorit wisatawan untuk berbelanja.
Sementara itu, wisatawan lain bernama Nur Syarifah mengaku tetap merasa nyaman beraktivitas di berbagai pusat perbelanjaan dan kawasan kuliner Jakarta. Menurutnya, kondisi lalu lintas yang padat justru lebih menantang dibandingkan kekhawatiran terhadap tindak kriminal yang ramai diperbincangkan belakangan ini.
Data kunjungan wisatawan juga menunjukkan peran penting Singapura bagi industri pariwisata Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Singapura menjadi negara penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia.
Pada kuartal pertama tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan asal Singapura tercatat melampaui 320 ribu orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, masih menjadi destinasi yang menarik bagi warga negara kota tersebut.
Di tengah dinamika ekonomi global, pelemahan rupiah memang menghadirkan tantangan tersendiri bagi perekonomian nasional. Namun di sisi lain, kondisi ini juga memberikan peluang bagi sektor pariwisata, perdagangan, dan UMKM lokal untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara yang ingin mendapatkan pengalaman berbelanja dan berwisata dengan biaya yang lebih kompetitif.(Rhz2797)
