Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Langkah ini dilakukan setelah tiga peserta dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti rangkaian pelatihan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyatakan bahwa insiden tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Saat ini, Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara program tengah melakukan evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Menurut Rico, evaluasi difokuskan pada sejumlah aspek penting, terutama proses seleksi kesehatan peserta sebelum pelatihan dimulai. Selain itu, pengawasan medis selama kegiatan berlangsung, sistem deteksi dini terhadap kondisi kesehatan peserta, hingga prosedur penanganan ketika terjadi gangguan kesehatan juga menjadi bagian utama dari proses peninjauan.
Kemhan menegaskan bahwa pelatihan dasar militer dalam Program SPPI bukan bertujuan mencetak prajurit. Program tersebut dirancang untuk membangun karakter, kedisiplinan, integritas, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Nilai-nilai tersebut dinilai penting sebagai bekal bagi para calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih maupun Kampung Nelayan Merah Putih agar mampu menjalankan tugas secara profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di daerah masing-masing.
Bentuk Pelatihan Berpeluang Disempurnakan
Terkait kemungkinan perubahan metode pelatihan setelah munculnya korban jiwa, Rico menyampaikan bahwa pemerintah masih mengkaji seluruh hasil evaluasi yang sedang berlangsung. Seluruh masukan dari berbagai pihak akan dijadikan bahan pertimbangan dalam menyempurnakan penyelenggaraan program di masa mendatang.
Kemhan memastikan bahwa keselamatan peserta akan menjadi prioritas utama tanpa mengurangi tujuan pembentukan karakter yang menjadi inti dari Program SPPI. Pemerintah juga berkomitmen menjaga profesionalisme pelaksanaan pelatihan agar berjalan lebih aman dan efektif.
Kemhan Sampaikan Belasungkawa
Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Pertahanan menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya tiga peserta Program SPPI yang mengikuti pelatihan dasar militer di lokasi berbeda.
Korban pertama adalah Anisa Muyassaroh yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan dan Kejuruan Resimen Induk Daerah Militer (Satdik Didikjur Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.
Korban kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, menjalani pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur (Satdik Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Sementara itu, korban ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal dunia setelah mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta.
Pemerintah menegaskan bahwa hasil evaluasi menyeluruh akan menjadi dasar perbaikan sistem pelatihan ke depan, dengan menitikberatkan pada peningkatan standar keselamatan, pengawasan kesehatan peserta, serta kualitas pelaksanaan program agar tujuan pembentukan karakter dapat tercapai tanpa mengabaikan aspek keamanan.(Rhz2797)
